Pengangguran Turun Jadi 4,68 Persen Menkeu Banggakan Capaian RI
![]() |
| Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa |
JAKARTA – Ketangguhan ekonomi dan ketatnya manajemen fiskal membuat Indonesia berani unjuk gigi di pentas dunia. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menguraikan prestasi makroekonomi Indonesia di hadapan sivitas akademika Nankai University, Tianjin, China, Minggu (21/6/2026).
Purbaya menyampaikan orasi akademiknya langsung di hadapan Rektor Nankai University, President Chen Yulu, Wakil Rektor Eksekutif, Chen Jun, Wakil Rektor, Sheng Bin, dan Profesor Xingmin Li, serta ditonton oleh ratusan mahasiswa.
"Kehormatan besar bagi saya untuk berada di Nankai University. Hari ini, dengan sukacita saya membagikan perspektif Indonesia mengenai kebijakan ekonomi, manajemen fiskal, serta pembangunan nasional yang berkelanjutan. Saya berharap dialog ini memperkuat pertukaran akademik, memperdalam pemahaman bersama, dan semakin meningkatkan persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok," jelas Purbaya.
Melampaui G20 dan ASEAN
Kondisi fundamental ekonomi Indonesia digambarkan dalam keadaan sangat prima. Laju pertumbuhan ekonomi sukses mencatatkan rekor 5,61% yoy pada Kuartal I-2026. Persentase tersebut memposisikan Indonesia lebih unggul dibandingkan banyak anggota G20 dan ASEAN. Inflasi domestik per Mei 2026 juga terjaga stabil di angka 3,08%.
"Indonesia terus tampil menonjol dengan pertumbuhan PDB Kuartal I-2026 sebesar 5,61% yoy, mengungguli banyak negara ekonomi G20 dan ASEAN. Di saat yang sama, kami mempertahankan stabilitas harga dengan inflasi Mei 2026 sebesar 3,08%. Perkembangan ini membuktikan bahwa Indonesia memasuki periode ini dengan pertumbuhan yang kuat, inflasi terkendali, dan ketahanan kebijakan yang kredibel," sambung Purbaya.
Eksposur Risiko yang Terkendali
Kedisiplinan fiskal menjadi kunci utama dengan rasio defisit terjaga ketat di bawah 3%. Indonesia juga terbukti kuat menghadapi ancaman krisis global dengan skor ketahanan energi mencapai 77%. Nilai ini mendahului skor China di level 76% dan hanya berjarak dekat dengan Afrika Selatan di level 79%.
Geliat ekspansi ekonomi secara inklusif tercermin kuat pada sejumlah sektor riil:
- PMI Manufaktur bertengger di titik ekspansif 50,0.
- Sirkulasi likuiditas (M0) melambung 14,8% yoy.
- Pertumbuhan kredit perbankan mencapai 11,5% yoy.
- Rentetan surplus neraca perdagangan konsisten bertahan 72 bulan berturut-turut.
- Cadangan devisa negara menebal di posisi USD 144,9 miliar (mampu menutupi 5,6 bulan impor serta utang luar negeri pemerintah).
Berbuah Manis bagi Rakyat
Kebijakan terstruktur ini bermuara pada penciptaan lahan pekerjaan bagi 1,9 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tahun 2026 pun menciut ke titik 4,68%. Indikator kemiskinan turut melandai dari 8,57% pada September 2024 menjadi 8,25% pada September 2025.
Ke depan, implementasi nyata diarahkan pada 8 kluster prioritas nasional.
"Prioritas tersebut mencakup fondasi ketahanan nasional: kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur, perumahan, dan ketangguhan bencana," sebut Purbaya.
Rencana matang ini terus dipacu lewat laju industrialisasi, tata kelola digital, dan keamanan.
"Ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya tangguh di tingkat makro, melainkan juga secara nyata bertransformasi menjadi ketersediaan lapangan kerja, penurunan angka kemiskinan, serta kesejahteraan masyarakat yang lebih luas dan merata," tutup Purbaya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | detik.com |
| Kategori | : | Pasar & Niaga |








