Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
8 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Kuliner

Taktik Pesawat Nirawak Teheran Bikin Sistem Pertahanan Canggih Washington Kewalahan

Taktik Pesawat Nirawak Teheran Bikin Sistem Pertahanan Canggih Washington Kewalahan
Rudal balistik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Rabu, 04 Maret 2026 19:17 WIB

JAKARTA - Sistem pertahanan udara Amerika Serikat (AS) kini berada di ambang batas kemampuannya dalam menghadapi rentetan serangan drone dan rudal Iran di kawasan Asia Barat. Analisis terbaru yang diterbitkan oleh The Wall Street Journal (WSJ), Selasa (3/3/2026), membeberkan bahwa gelombang serangan Teheran tidak hanya membidik rezim Zionis Israel, melainkan ikut menghancurkan berbagai aset militer dan diplomatik Washington.

Tekanan pertempuran ini membawa kerugian nyata bagi kubu AS. Pejabat Komando Pusat AS mengonfirmasi enam personel militernya tewas akibat hantaman drone di sebuah fasilitas di Kuwait. Tragedi ini diperparah dengan insiden terpisah yang merontokkan tiga unit jet tempur F-15 milik Amerika di wilayah udara yang sama.

Gempuran dari Teheran memperluas radius kerusakannya hingga menyasar pos-pos pertahanan AS di Irak, Arab Saudi, dan Bahrain. Kedutaan Besar AS di Riyadh bahkan dilaporkan mengalami kerusakan signifikan pascaserangan pesawat nirawak, Selasa dini hari.

Pasukan AS saat ini dihadapkan pada tantangan geografis yang teramat luas untuk menyinkronkan strategi pertahanan bersama negara mitra. Situasi kian pelik ketika Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim berhasil menetralisir unit kedua sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) milik AS. Kehancuran fasilitas vital ini otomatis menggerus kapasitas intersepsi rudal Amerika secara drastis di area konflik.

Mantan Asisten Sekretaris Angkatan Udara AS, Ravi Chaudhary, memaparkan instalasi militer negaranya menghadapi tingkat ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya. Persenjataan balistik Iran yang dipadukan dengan drone tipe Shahed bermuatan bahan peledak serta teknologi perang elektronik menjadi ancaman mematikan bagi pangkalan Amerika.

"Iran telah menunjukkan niat sekaligus kemampuan untuk menargetkan infrastruktur vital dan menghambat proyeksi kekuatan udara Amerika," urainya.

Strategi konfrontasi asimetris ini memaksa AS membakar anggaran pertahanan. Produksi massal drone murah Teheran secara langsung menguras stok rudal pencegat berbiaya tinggi dan berjumlah terbatas milik Washington, seperti Patriot maupun THAAD.

Efek bola salju dari konflik ini turut merembet ke ranah ekonomi internasional. Tindakan militer Iran terbukti efektif melumpuhkan lalu lintas maritim di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur krusial bagi distribusi minyak global.

Tekanan pertempuran ini membawa kerugian nyata bagi kubu AS. Pejabat Komando Pusat AS mengonfirmasi enam personel militernya tewas akibat hantaman drone di sebuah fasilitas di Kuwait. Tragedi ini diperparah dengan insiden terpisah yang merontokkan tiga unit jet tempur F-15 milik Amerika di wilayah udara yang sama.

Gempuran dari Teheran memperluas radius kerusakannya hingga menyasar pos-pos pertahanan AS di Irak, Arab Saudi, dan Bahrain. Kedutaan Besar AS di Riyadh bahkan dilaporkan mengalami kerusakan signifikan pascaserangan pesawat nirawak, Selasa dini hari.

Pasukan AS saat ini dihadapkan pada tantangan geografis yang teramat luas untuk menyinkronkan strategi pertahanan bersama negara mitra. Situasi kian pelik ketika Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim berhasil menetralisir unit kedua sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) milik AS. Kehancuran fasilitas vital ini otomatis menggerus kapasitas intersepsi rudal Amerika secara drastis di area konflik.

Mantan Asisten Sekretaris Angkatan Udara AS, Ravi Chaudhary, memaparkan instalasi militer negaranya menghadapi tingkat ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya. Persenjataan balistik Iran yang dipadukan dengan drone tipe Shahed bermuatan bahan peledak serta teknologi perang elektronik menjadi ancaman mematikan bagi pangkalan Amerika.

"Iran telah menunjukkan niat sekaligus kemampuan untuk menargetkan infrastruktur vital dan menghambat proyeksi kekuatan udara Amerika," urainya.

Strategi konfrontasi asimetris ini memaksa AS membakar anggaran pertahanan. Produksi massal drone murah Teheran secara langsung menguras stok rudal pencegat berbiaya tinggi dan berjumlah terbatas milik Washington, seperti Patriot maupun THAAD.

Efek bola salju dari konflik ini turut merembet ke ranah ekonomi internasional. Tindakan militer Iran terbukti efektif melumpuhkan lalu lintas maritim di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur krusial bagi distribusi minyak global.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Kuliner
wwwwww