Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
9 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Kampus

Belajar dari Tragedi Gempa Gayo 2013, Tanah Rentan di Aceh Tengah Kembali Bergerak

Belajar dari Tragedi Gempa Gayo 2013, Tanah Rentan di Aceh Tengah Kembali Bergerak
Lubang raksasa yang semakin meluas di Jalan Buter - Pondok Balik, Aceh Tengah.
Minggu, 01 Februari 2026 06:00 WIB

TAKENGON – Fenomena lubang raksasa yang terus melebar di lintasan Jalan Buter – Pondok Balik, Kabupaten Aceh Tengah, mengungkap kembali risiko besar yang tersembunyi di balik tanah vulkanik pegunungan Aceh. Hingga awal tahun ini, area longsoran masif tersebut telah meluas hingga mencakup lebih dari 30.000 meter persegi atau sekitar 3 hektare.

Perluasan ini bukan tanpa alasan. Wilayah tengah Aceh diketahui kaya akan material vulkanik dari Formasi Geureudong, sisa aktivitas gunung api purba jutaan tahun silam. Sifat tanahnya yang lepas dan mudah jenuh air menjadi pemicu utama mengapa lereng di kawasan tersebut sangat tidak stabil.

Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Aceh, Ikhlas memaparkan bahwa kondisi ini diperparah oleh cuaca ekstrem pada akhir November 2025. Pergerakan tanah terjadi secara perlahan namun konsisten, hingga menghancurkan badan jalan dan mengancam pemukiman.

"Material ini bersifat lepas dan mudah menyerap air. Ketika hujan datang, tanah menjadi jenuh dan membebani lereng itu sendiri," ujar Ikhlas, Sabtu (31/1/2026).

Kekhawatiran semakin meningkat mengingat karakteristik tanah di wilayah Ketol ini serupa dengan lokasi yang memicu hilangnya Desa Bah dan Serempah saat gempa Gayo tahun 2013. Kala itu, material yang mudah lepas membuat pemukiman jatuh dan hilang karena tidak adanya penyangga yang kuat pada struktur tanah.

Saat ini, lubang raksasa tersebut tidak hanya memutus akses jalan, tetapi juga merayap mendekati area perkebunan warga. Bahkan, tower sutet milik PLN di sekitar lokasi terpaksa dipindahkan karena posisi tanah yang terus amblas.

Ikhlas menyarankan adanya langkah konkret secara struktur maupun non-struktural untuk menghambat perluasan longsor. Selain memperkuat tebing dan membenahi jalur drainase, penanaman vegetasi penguat tanah dianggap menjadi solusi yang efektif.

"Di beberapa titik lubang raksasa itu, tampak bagian yang tidak terimbas longsor karena terdapat berbagai jenis tanaman yang memperkuat tanah," jelasnya.

Pemerintah setempat kini terus memantau zona kerentanan gerakan tanah tersebut, mengingat Takengon memiliki banyak lokasi yang rentan terkikis saat curah hujan meningkat.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kompas.com
Kategori:Kampus, Warga Bertuah
wwwwww