Lawan Kamboja, Timnas Cricket Putra Indonesia Sapu Bersih
![]() |
| Timnas Cricket Putra Indonesia. (Foto: PP PCI) |
Penulis: Azhari Nasution
Dalam delapan laga itu, Timnas Cricket putra terlibat lebih siap, lebih rapi, dan konsisten dalam mengendalikan jalannnya pertandingan. Pada laga perdana yang berlangsung 23 Desember, Indonesia memetik dua kemenangan—satu kemenangan telak 60 run (Indonesia 167/5, Kamboja 107 all out) dan satu kemenangan tipis 3 run (Indonesia 141/5, Kamboja 138/7).
Pada 24 Desember 2025, Indonesia kembali menang dengan 8 wicket setelah membatasi Kamboja 112/5 dan mengejar 116/2. Sehari kemudian, 25 Desember 2025, Indonesia mengunci kemenangan 27 run (Indonesia 152/6, Kamboja 125/8).
Pola itu berlanjut di 26 Desember 2025. Salah satu laga harus dihentikan karena hujan dan berakhir tanpa hasil ketika Kamboja sudah mencapai 157/5 dan Indonesia baru memulai 14/0. Namun, pada hari yang sama Indonesia tetap memastikan satu kemenangan lain—menang 3 wicket setelah mengejar 103/7 untuk membalas Kamboja 102/1.
Dua hari terakhir menjadi penutup yang rapi. Pada 28 Desember 2025, Indonesia meraih dua kemenangan lagi: menang 9 wicket setelah Kamboja 72 all out dan Indonesia 78/1, serta menang 6 wicket setelah Kamboja 150/4 dan Indonesia 151/4. Peda laga seri penutup tanggal 29 Desember 2025, Indonesia kembali menang 6 wicket, membatasi Kamboja 80/8 dan menuntaskan target dengan 84/4 hanya dalam 11,1 over.
Di klasemen akhir, Indonesia tercatat memuncaki tabel tanpa kekalahan: 9 main, 8 menang, 1 tanpa hasil, 17 poin, dengan net run rate +1,9059. Kamboja tidak meraih kemenangan dari delapan laga yang selesai, serta memiliki net run rate -1,9059. Angka-angka itu merangkum cerita seri: Indonesia bukan sekadar menang, melainkan menang dengan kontrol—mampu menjaga tekanan dan menutup ruang bagi kebangkitan lawan.
Kontribusi pemain Indonesia juga relatif menyebar. Apriliandy Abdillah memimpin daftar peraih wicket dengan 12, disusul Gede Agus Priandana dengan 9. Di sisi pukulan, Indonesia mendapat sokongan dari Kadek Dharma Kesuma dan Gede Agus Priandana yang konsisten berada di papan atas perolehan run.

Kamboja tetap memiliki penampilan menonjol secara individu, tetapi seri ini menegaskan bahwa Indonesia lebih unggul secara kolektif—lebih disiplin dalam rencana, lebih rapi dalam eksekusi, dan lebih stabil dari pertandingan ke pertandingan.
Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Cricket Indonesia (PP PCI), Abhiram Singh Yadav, menilai sapu bersih ini sebagai indikator bahwa standar kerja tim mulai terbentuk. Namun, ia menekankan pentingnya menjaga arah dan tidak terjebak euforia.
“Delapan laga yang selesai, delapan kemenangan—itu bukan kebetulan. Itu hasil dari disiplin, fokus, dan kerja kolektif. Tetapi kami tidak mau berhenti di sini. Seri seperti ini justru jadi bahan evaluasi: detail-detail kecil harus terus dibenahi karena tantangan berikutnya akan lebih besar,” ujarnya.
Abhiram juga menegaskan bahwa yang ingin dibangun bukan sekadar hasil, melainkan karakter permainan. “Kami ingin Indonesia dikenal sebagai tim yang serius—menghormati lawan, menghormati permainan, dan menjaga standar dari bola pertama sampai bola terakhir. Menang besar itu bagus, menang tipis juga penting. Yang menentukan adalah ketenangan, kepatuhan pada rencana, dan kekompakan dalam situasi apa pun,” katanya. ***
| Kategori | : | Gelanggang, Binawidya |








