Ancaman Baru di Balik Bencana Sumatra: Diare hingga Leptospirosis Mengintai Korban Pengungsian
![]() |
| Presiden Prabowo Subianto (ketiga kiri) didampingi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto (kiri) dan Bupati Aceh Tenggara Muhammad Salim Fakhry (kedua kiri) menyapa para pengungsi. |
JAKARTA – Banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatra belum benar-benar mereda, namun ancaman baru mulai muncul di tengah ribuan pengungsi. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, mengungkap temuan penyakit yang kini menjalar di lokasi pengungsian, memperlihatkan bahwa krisis kesehatan ikut membayangi bencana ekologis tersebut.
“Yang sudah ditemukan penyakit seperti, yang banyak ya, diare, ISPA, leptospirosis,” ujar Charles, Jumat (5/12/2025). Temuan itu diperolehnya setelah melihat langsung situasi penanganan di lapangan. Kondisi sanitasi yang sulit serta keterbatasan fasilitas medis membuat para pengungsi rentan terserang penyakit.
Charles menilai pemerintah pusat, khususnya Kementerian Kesehatan, harus meningkatkan pemantauan dan memastikan intervensi kesehatan tepat sasaran.
“Kami meminta Kemenkes untuk memonitor terus dan mencari apa yang dibutuhkan sehingga pelayanan kesehatan tetap bisa diberikan kepada yang membutuhkan,” tegasnya.
Fasilitas Kesehatan Lumpuh, Pasien Kronis Terancam
Di luar kebutuhan pengungsi, Charles juga menyoroti risiko terganggunya layanan bagi pasien dengan pengobatan rutin. Ia mengingatkan bahwa bencana sering kali menyebabkan pasien kronis kesulitan mengakses obat, yang berpotensi memperburuk kondisi mereka.
“Jangan sampai karena adanya bencana mereka tidak mendapatkan pelayanan sehingga kondisinya bisa memburuk,” katanya.
Situasi semakin rumit karena lebih dari 15 rumah sakit di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat tidak dapat beroperasi akibat kerusakan. Fasilitas kesehatan yang lumpuh ini mempersempit ruang gerak tenaga medis dalam merespons penyakit yang mulai mewabah.
“Sudah lebih dari 15 rumah sakit yang tidak beroperasi di tiga provinsi terdampak banjir,” ungkap Charles.
Ia menyatakan bahwa Kemenkes mengirimkan laporan situasi setiap hari, namun eskalasi jumlah pengungsi membuat kebutuhan medis semakin tinggi.
“Jumlah yang terdampak terus meningkat, baik itu pengungsi maupun masyarakat luas,” katanya.
Pengungsian Berpotensi Jadi Episentrum Wabah
Dengan kondisi pengungsian yang padat, minim air bersih, dan keterbatasan obat-obatan, risiko perluasan penyakit menular sangat tinggi. Charles meminta pemerintah memperkuat layanan kesehatan bergerak serta memastikan suplai obat, alat kesehatan, dan tenaga medis tersedia dalam jumlah memadai.
Ia menegaskan bahwa respons cepat bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk mencegah bencana kesehatan susulan. Pengungsi Sumatra kini menghadapi dua pukulan sekaligus: terpukul secara fisik oleh bencana alam dan terancam secara medis oleh wabah penyakit yang mulai bermunculan. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Balai Kota, Parlemen, Kesehatan, Binawidya |











