Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
11 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
4
DPRD Kota Pekanbaru Dukung Polda Riau Sikat Mafia BBM Subsidi, Minta Pengawasan Diperketat
Kabar Bertuah
21 menit yang lalu
DPRD Kota Pekanbaru Dukung Polda Riau Sikat Mafia BBM Subsidi, Minta Pengawasan Diperketat
5
PSPS Pekanbaru Ajukan Pembatalan Denda Rp20 Juta ke PSSI, Ini Bukti Kuat Manajemen
Gelanggang
18 menit yang lalu
PSPS Pekanbaru Ajukan Pembatalan Denda Rp20 Juta ke PSSI, Ini Bukti Kuat Manajemen
6
Pelantikan 17 Pejabat Pemkot Pekanbaru, Komisi I DPRD Tagih Bukti Kinerja Nyata untuk Warga
Parlemen
15 menit yang lalu
Pelantikan 17 Pejabat Pemkot Pekanbaru, Komisi I DPRD Tagih Bukti Kinerja Nyata untuk Warga
Home  /  Berita  /  Gelanggang

NOC Indonesia MoU dengan AIMS, Pastikan Pencak Silat Bisa Direkognisi IOC

NOC Indonesia MoU dengan AIMS, Pastikan Pencak Silat Bisa Direkognisi IOC
Raja Sapta Oktohari bersama peserta AIMS General Assembly di Lausanne . (NOC Indonesia)
Selasa, 04 November 2025 16:38 WIB
Penulis: Azhari Nasution
LAUSANNE - Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) terus menunjukkan komitmen dalam memperkuat diplomasi olahraga di tingkat global dengan mendorong pencak silat menjadi anggota Alliance of Independent Recognized Members of Sport (AIMS).

Langkah ini menjadi babak baru bagi olahraga warisan budaya Indonesia untuk berproses menuju pengakuan resmi International Olympic Committee (IOC) dan membuka peluang tampil di Youth Olympic Games Dakkar 2026.

Dorongan tersebut diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara NOC Indonesia dan AIMS dalam Sidang Umum (General Assembly) AIMS yang berlangsung di Lausanne, Swiss. MoU ini menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi pencak silat di ranah internasional serta memperluas jangkauan diplomasi olahraga Indonesia.

“Melalui kemitraan dengan AIMS, kita membuka jalan bagi pencak silat untuk masuk ke sistem Olimpiade. Ini adalah langkah konkret agar olahraga tradisional Indonesia mendapat pengakuan global,” ujar Raja Sapta Oktohari, Ketua Umum NOC Indonesia.

Okto menegaskan bahwa pencak silat kini berada di jalur yang tepat menuju panggung Olimpiade. Jika nantinya resmi bergabung ke AIMS, pencak silat akan memperoleh legitimasi untuk berproses dalam ekosistem olahraga internasional yang diakui IOC.

“Tujuan jangka pendeknya adalah tampil di Youth Olympic Games Dakkar 2026. Namun lebih dari itu, ini adalah proses panjang untuk memastikan pencak silat diakui sebagai bagian dari komunitas olahraga dunia,” tambahnya.

Lebih lanjut, Okto menyampaikan bahwa diperlukan percepatan komunikasi dan koordinasi antara Indonesia dan IOC untuk memperlancar proses pengakuan tersebut.

“Karena itu, kita sangat membutuhkan percepatan proses perbaikan komunikasi antara Indonesia dan IOC. Kita ingin segera memastikan pencak silat juga bisa direkognisi oleh IOC,” tegas Okto.

NOC Indonesia menilai bahwa keanggotaan pencak silat di AIMS bukan sekadar pencapaian organisasi, melainkan representasi diplomasi budaya Indonesia di kancah global. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa olahraga tradisional dapat bertransformasi menjadi olahraga modern yang diakui dunia, dengan dukungan tata kelola dan jejaring internasional yang kuat.

Sebagai informasi, AIMS merupakan salah satu dari lima organisasi payung olahraga dunia yang diakui secara resmi oleh IOC, bersama dengan GAISF (Global Association of International Sports Federations), ARISF (Association of IOC Recognised International Sports Federations), ASOIF (Association of Summer Olympic International Federations), dan AIOWF (Association of International Olympic Winter Sports Federations).

Berbeda dengan federasi olahraga Olimpiade, AIMS menaungi cabang olahraga non-Olimpik yang sedang dalam proses menuju pengakuan IOC. Tujuan utama AIMS adalah membantu anggotanya memperkuat tata kelola, memperluas jangkauan global, dan memfasilitasi komunikasi dengan IOC agar olahraga tersebut dapat memperoleh pengakuan resmi.

Beberapa cabang olahraga yang sebelumnya bernaung di AIMS, seperti muaythai, cheerleading, dan lacrosse, kini telah mendapat pengakuan IOC. Dengan bergabungnya pencak silat ke dalam AIMS, Indonesia berharap warisan budayanya ini dapat mengikuti jejak yang sama.

“Diplomasi olahraga bukan sekadar tentang prestasi di lapangan, tapi juga tentang bagaimana Indonesia bisa menjadi bagian aktif dalam membangun ekosistem olahraga dunia. Pencak silat adalah simbol budaya kita, dan sudah saatnya ia dikenal serta diakui di panggung Olimpiade,” tutup Okto. ***

wwwwww