Modus Begal di Medan Kian Canggih, Remaja 15 Tahun Jadi Korban “Perangkap Map”
![]() |
| Ilustrasi begal. (foto: maulana saputra/kumparan) |
JAKARTA – Kejahatan jalanan di Kota Medan kembali menelan korban. Seorang remaja, Fazrul Afif Azhar (15), kehilangan motor Scoopy kesayangannya setelah dijebak kawanan begal dengan modus baru: berpura-pura melihat peta di ponsel.
Peristiwa itu terjadi di kawasan Medan Polonia, Jumat (10/10/2025) malam. Saat itu, Fazrul sedang dalam perjalanan pulang usai menonton futsal di Medan Helvetia.
Namun tanpa disadari, tiga motor berisi sembilan pelaku membuntutinya.
“Awalnya saya lihat mereka kayak mau nanya jalan. Tapi tiba-tiba langsung pepet dan ambil kunci motor saya,” ujar Fazrul saat ditemui wartawan, Sabtu (11/10/2025).
Fazrul sempat mencoba mempertahankan motornya, tapi salah satu pelaku mengancam dengan celurit. “Satu orang bawa sajam, saya takut, langsung lari,” katanya.
Dalam sekejap, motor Scoopy berpelat BK 6067 AX miliknya raib dibawa kabur.
Aksi kilat itu hanya berlangsung kurang dari satu menit — cepat, terencana, dan membuat korban tak sempat meminta bantuan.
Kanit Reskrim Polsek Medan Baru, Iptu Poltak Tambunan, mengatakan pihaknya masih mengumpulkan informasi dari lapangan. “Belum ada laporan resmi masuk, tapi kami segera pastikan dan selidiki kejadian itu,” ujarnya.
Aksi begal seperti ini disebut bukan yang pertama di Medan. Modus berpura-pura melihat peta di ponsel atau menanyakan arah menjadi cara baru pelaku untuk mendekati korban tanpa curiga.
Dalam beberapa kasus sebelumnya, pelaku bahkan berpura-pura mogok di tengah jalan sebelum menyerang pengguna kendaraan yang berhenti membantu.
Pengamat keamanan publik dari Universitas Sumatera Utara, Dr. Agus Tanjung, menilai kejadian ini menunjukkan kecerdikan pelaku kejahatan dalam membaca perilaku korban.
“Modus seperti ini memanfaatkan empati masyarakat. Korban tidak curiga, justru mendekat, dan di situlah mereka terjebak,” ujarnya.
Agus menyebut lemahnya penerangan jalan dan minimnya patroli di sejumlah ruas jalan Medan menjadi faktor pendukung maraknya begal.
“Polisi harus punya sistem respons cepat di titik-titik rawan. Kamera pengawas (CCTV) juga belum banyak berfungsi efektif,” katanya.
Fazrul kini masih trauma. Ia mengaku belum berani keluar malam sejak kejadian itu. “Saya pikir mereka cuma mau tanya jalan. Sekarang saya kapok, takut banget kalau naik motor sendirian malam,” ucapnya pelan.
Warga sekitar berharap pihak kepolisian segera menindak tegas para pelaku begal yang semakin berani beraksi bahkan terhadap anak di bawah umur. “Ini sudah meresahkan. Jangan tunggu ada korban luka atau meninggal baru ditindak,” kata seorang warga, Ahmad, yang tinggal tak jauh dari lokasi kejadian. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | kumparan.com |
| Kategori | : | Kabar Bertuah, Warga Bertuah |








