Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
12 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
2
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
4
DPRD Kota Pekanbaru Dukung Polda Riau Sikat Mafia BBM Subsidi, Minta Pengawasan Diperketat
Kabar Bertuah
2 jam yang lalu
DPRD Kota Pekanbaru Dukung Polda Riau Sikat Mafia BBM Subsidi, Minta Pengawasan Diperketat
5
Pelantikan 17 Pejabat Pemkot Pekanbaru, Komisi I DPRD Tagih Bukti Kinerja Nyata untuk Warga
Parlemen
2 jam yang lalu
Pelantikan 17 Pejabat Pemkot Pekanbaru, Komisi I DPRD Tagih Bukti Kinerja Nyata untuk Warga
6
PSPS Pekanbaru Ajukan Pembatalan Denda Rp20 Juta ke PSSI, Ini Bukti Kuat Manajemen
Gelanggang
2 jam yang lalu
PSPS Pekanbaru Ajukan Pembatalan Denda Rp20 Juta ke PSSI, Ini Bukti Kuat Manajemen
Home  /  Berita  /  Balai Kota

Smart TV untuk 330 Ribu Sekolah, Risiko Mubazir Jika Listrik Tak Merata

Smart TV untuk 330 Ribu Sekolah, Risiko Mubazir Jika Listrik Tak Merata
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari saat ditemui di Senayan, Jakarta, Sabtu (20/09/2025). (dokumentasi: inilah.com/ harris muda)
Sabtu, 20 September 2025 15:56 WIB
JAKARTA – Program ambisius Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan distribusi 330 ribu smart TV ke sekolah hingga akhir tahun menuai kritik. Sejumlah kalangan menilai, tanpa kesiapan listrik dan jaringan internet di daerah, pengadaan perangkat canggih ini berisiko tidak efektif dan hanya membuang anggaran.

Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, menegaskan urusan teknis sudah menjadi kewenangan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Ia mengklaim pemerintah telah memperhitungkan berbagai kendala, termasuk akses listrik di sekolah-sekolah pelosok.

"Tentu nanti teknisnya akan dikembalikan kepada kementerian pendidikan ya, Kemendikdasmen. Pasti itu sudah diperhitungkan," ujarnya di Senayan, Jakarta, Sabtu (20/9/2025).

Namun, di sisi lain, Qodari tak menutup mata bahwa masih ada ribuan sekolah yang belum teraliri listrik. Ia menyebut energi surya bisa menjadi solusi alternatif. "Harus ada cara, termasuk terakhir itu, kalau saya tidak salah, diusahakan agar listriknya bisa pakai tenaga surya," tambahnya.

Meski demikian, sejumlah pengamat pendidikan mempertanyakan efektivitas langkah ini. Mereka menilai, jika infrastruktur dasar belum diperbaiki, maka smart TV berpotensi sekadar menjadi hiasan di ruang kelas. "Jangan sampai sekolah dikasih perangkat mahal, tapi hanya jadi pajangan karena listriknya tidak ada," kata seorang pemerhati pendidikan.

Presiden Prabowo sebelumnya mengumumkan lonjakan target distribusi dari 100 ribu menjadi 330 ribu sekolah. Ia juga berencana menambah jatah tiga layar pintar per sekolah mulai 2026. Menurutnya, program ini akan mendukung pembelajaran jarak jauh di wilayah yang kekurangan guru.

Namun di lapangan, masalah dasar pendidikan masih membayangi: akses listrik, jaringan internet, serta kualitas tenaga pengajar. Tanpa penyelesaian di tingkat fundamental, pengadaan smart TV berisiko menjadi proyek setengah jalan yang tidak menyentuh kebutuhan riil sekolah-sekolah terpencil. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:Inilah.com
Kategori:Kabar Bertuah, Kampus, Balai Kota, Hukum
wwwwww