Gelombang Kendaraan Listrik Guncang Industri Migas, Indonesia Diminta Siaga
![]() |
| Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM), Yuliot Tanjung di Jakarta, Selasa (11/2/2025) |
JAKARTA – Fenomena penutupan massal kilang minyak di China menjadi tanda pergeseran besar dalam peta energi dunia. Lebih dari 60 persen SPBU di negeri tirai bambu itu dilaporkan berhenti beroperasi akibat ledakan penggunaan kendaraan listrik.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menilai fenomena tersebut sebagai alarm bagi Indonesia. “Di China, lebih dari separuh kendaraan, baik pribadi maupun angkutan berat, sudah berbasis baterai. Dampaknya luar biasa, kilang hingga SPBU tertekan hebat,” ujarnya, Minggu (14/9/2025).
Namun, ia menekankan kondisi Indonesia masih berbeda. Permintaan bahan bakar minyak (BBM) nasional mencapai 1,5 juta barel per hari, sehingga bisnis kilang domestik masih stabil. “Permintaan BBM kita masih tinggi. Itu sebabnya kilang dalam negeri tetap beroperasi, sisanya dipenuhi lewat impor,” jelasnya.
Meski begitu, Yuliot menegaskan Indonesia tidak boleh lengah. Tren global jelas bergerak ke energi bersih, dan ketergantungan pada BBM bisa sewaktu-waktu menjadi beban. “Optimalisasi kilang penting, tapi kita juga harus mempersiapkan transisi energi. Jangan sampai kejadian di China tiba-tiba terjadi di sini,” tambahnya.
China sendiri kini sedang melakukan restrukturisasi industri migasnya. Rongsheng Petrochemical Co memperkirakan butuh waktu 3–5 tahun untuk memangkas 100 juta ton kapasitas kilang. Pemerintah mereka mendorong kampanye anti-involution dengan menutup kilang kecil, modernisasi fasilitas lama, dan mengalihkan investasi ke sektor material berteknologi tinggi.
Kondisi global kian diperberat oleh sanksi energi Amerika Serikat terhadap Rusia serta overkapasitas kilang Asia. Di tengah tekanan itu, Indonesia masih mengandalkan BBM untuk menopang ekonomi, meski transisi energi terus didorong.
“Fenomena di China adalah gambaran masa depan. Tinggal bagaimana kita mempersiapkan diri agar transisi berjalan mulus, tidak membuat industri migas kolaps, tapi juga tidak menghambat perkembangan energi baru,” tutup Yuliot. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Pasar & Niaga, Balai Kota |











