Usai Kecelakaan di Jati, Pemerintah Sumbar Tekan KAI dan Balai Perkeretaapian Perkuat Pengamanan
![]() |
| Ilustrasi kecelakaan kereta dan mobil |
PADANG – Tragedi kecelakaan di perlintasan kereta api Jati, Kota Padang, yang menewaskan dua pelajar dan melukai lima lainnya, menjadi alarm keras bagi semua pihak. Mobil Honda Brio putih yang ditumpangi tujuh pelajar terseret kereta dari arah Simpang Aru menuju Bandara Internasional Minangkabau, Senin (25/8/2025), sebelum akhirnya berhenti setelah terbawa sekitar 10 meter.
Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy, menegaskan keselamatan publik harus menjadi prioritas utama. Ia mengingatkan masinis PT Kereta Api Indonesia (KAI) agar disiplin membunyikan klakson dari jarak aman sebelum melewati perlintasan. "Hal ini penting untuk segera direspons KAI, agar masyarakat memiliki waktu bersiaga. Keselamatan publik harus diutamakan," ujarnya.
Vasko menyebut hasil pengecekan di lapangan pekan lalu menemukan banyak perangkat pengaman yang tidak berfungsi, termasuk rambu peringatan dan early warning system (EWS). "Saya meminta seluruh pihak terkait bergerak cepat, melakukan inventarisasi, memperbaiki rambu yang rusak, hingga memperketat standar keselamatan di perlintasan," tegasnya.
Direktur Keselamatan dan Keamanan KAI, Dadan Rudiansyah, menilai konstruksi jalan di lokasi kejadian sudah tidak layak. Menurutnya, jalan yang menanjak membuat kendaraan sulit melintas dengan cepat. "Kalau konstruksi seperti ini, butuh waktu untuk menyelesaikan penyeberangan. Ini harus dievaluasi," katanya.
Senada, Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas II Padang, Hendrialdi, menyebut pihaknya telah melakukan inventarisasi peralatan EWS dan JPL (jalan perlintasan). Hasilnya akan menjadi dasar pengajuan anggaran untuk memperbaiki sistem keselamatan. "Kami sudah sampaikan kepada DPR bahwa biaya untuk EWS dan JPL belum tersedia. Proposal kebutuhan akan kami ajukan agar segera terealisasi," jelasnya.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, yang meninjau lokasi menegaskan adanya langkah jangka pendek dan panjang. Salah satunya dengan menugaskan petugas KAI menjaga perlintasan rawan. "Seluruh titik rawan akan dijaga manual. Selain itu, KAI harus mengajukan anggaran untuk pembangunan plang perlintasan di Sumbar," ujarnya.
Tragedi ini menegaskan bahwa perlintasan kereta api masih menjadi titik rawan kematian jika pengamanan tidak diperketat. Pemprov Sumbar berjanji terus mendorong KAI, Balai Perkeretaapian, dan pemerintah pusat agar segera menutup celah lemahnya keselamatan publik di jalur perlintasan sebidang. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | msn.com |
| Kategori | : | Warga Bertuah, Balai Kota, Binawidya, Kulim |











