Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
3
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
4 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Home  /  Berita  /  Balai Kota

Jembatan Putus, Penghulu di Pasaman Nekat Terjang Sungai Demi Akad Nikah

Jembatan Putus, Penghulu di Pasaman Nekat Terjang Sungai Demi Akad Nikah
Selasa, 12 Agustus 2025 17:23 WIB

PADANG – Sebuah pernikahan di Jorong Batang Kundur, Kecamatan Duo Koto, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat, berlangsung dengan cerita yang tak biasa. Penghulu yang memimpin akad nikah harus berenang menyeberangi sungai setelah jembatan satu-satunya di desa itu putus akibat hujan deras.

Penghulu tersebut, Ahad Nasution, bercerita bahwa perjalanan menuju lokasi pernikahan pasangan Agep Purwandi dan Intan Purnama Sari pada Sabtu (2/8/2025) sudah penuh tantangan sejak awal. Dari pusat kecamatan, ia menempuh jarak sekitar 27 kilometer menggunakan ojek melewati jalan licin dan curam.

“Sampai di tepi sungai, saya lihat jembatan sudah putus. Satu-satunya cara adalah berenang. Saya bawa kain basahan untuk persiapan, karena saya tahu medannya seperti itu,” ungkap Ahad, Senin (11/8/2025).

Hujan yang masih turun membuat arus sungai semakin deras. Kekhawatiran akan hanyut atau bertemu buaya sempat menghantui pikirannya. Namun, ia tetap melanjutkan perjalanan demi memastikan akad nikah tidak tertunda. “Pengantin sudah menunggu. Mereka juga sudah mempersiapkan baralek,” ujarnya.

Setelah berhasil menyeberang, Ahad kembali naik ojek menuju desa. Ia disambut hangat oleh pucuk adat setempat, Sumarno, sebelum memimpin prosesi akad nikah yang berjalan lancar hingga selesai sekitar pukul 11.30 WIB.

Namun, derasnya arus sungai membuat warga melarangnya kembali pulang hari itu. Ia pun bermalam di desa sebelum kembali keesokan harinya. “Ini pengalaman yang berkesan. Semua saya jalani dengan ikhlas demi amanah,” katanya.

Perjalanan penuh risiko ini membuat Ahad berharap pemerintah daerah memperbaiki akses jalan menuju wilayah terpencil seperti Batang Kundur. Saat ini, kendaraan standar sulit melintas dan harus dimodifikasi agar mampu menembus jalur ekstrem tersebut.

Kepala Kanwil Kemenag Sumbar, Edison, memberikan apresiasi langsung dan piagam penghargaan kepada Ahad. Menurutnya, aksi tersebut menjadi teladan bahwa pelayanan keagamaan di pelosok bukan hanya soal kewajiban, melainkan juga pengabdian tanpa batas. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:bisnis.com
Kategori:Pasar & Niaga, Balai Kota, Parlemen, Binawidya, Nasional
wwwwww