Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
10 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Kabar Bertuah

Ancaman Tambang Ilegal di Hulu Sungai, Riau dan Sumbar Bergerak Bersama Jaga Warisan Budaya

Ancaman Tambang Ilegal di Hulu Sungai, Riau dan Sumbar Bergerak Bersama Jaga Warisan Budaya
Polda Riau dan Polda Sumatera Barat kini berkoordinasi erat dalam rangka penertiban aktivitas tambang ilegal di sepanjang aliran sungaidi Kuansing, Kamis (31/7/2025).
Kamis, 31 Juli 2025 20:18 WIB

KUANSING – Sungai Kuantan kembali menjadi pusat perhatian, bukan hanya karena Festival Pacu Jalur yang akan digelar, tapi juga karena keberadaan penambangan emas tanpa izin (PETI) yang mengancam kebersihan dan citra kawasan tersebut. Untuk itu, Polda Riau dan Polda Sumatera Barat kini berkoordinasi erat dalam rangka penertiban aktivitas tambang ilegal di sepanjang aliran sungai.

Kapolda Riau, Irjen Herry Heryawan, menegaskan pentingnya kerja sama lintas provinsi mengingat hulu Sungai Kuantan berada di wilayah Dharmasraya, Sumatera Barat. "Kami sudah berkoordinasi dengan Polda Sumbar, Korem, Gubernur, Kapolres, dan Bupati Dharmasraya. Semua mendukung upaya bersama ini," kata Herry di Kuansing, Kamis (31/7/2025).

Langkah ini dianggap krusial mengingat Sungai Kuantan menjadi jalur utama Pacu Jalur, tradisi tahunan yang kini telah berkembang menjadi atraksi bertaraf internasional. Diperkirakan, festival kali ini akan disaksikan YouTuber hingga artis dunia dengan pengikut mencapai puluhan juta orang. 

“Kalau kondisi sungai kotor, air cokelat, dan aktivitas ilegal tak ditindak, citra daerah bisa hancur. Ini bukan hanya soal keamanan, tapi juga martabat budaya,” tegas Herry.

Di sisi lain, Gubernur Riau, Abdul Wahid, mengapresiasi upaya kolektif yang dilakukan aparat keamanan. Ia menekankan bahwa Sungai Kuantan bukan sekadar jalur air, melainkan warisan sejarah dan kebanggaan masyarakat Riau.

“Sungai ini adalah saksi hidup lahirnya budaya Pacu Jalur. Kita punya kewajiban moral untuk menjaga kelestariannya, bukan merusaknya dengan tambang ilegal,” ujar Wahid. 

Ia juga menekankan pentingnya solusi berkelanjutan bagi ekonomi warga sekitar agar tak lagi bergantung pada aktivitas PETI. Pemerintah disebut tengah merancang program pemberdayaan yang lebih ramah lingkungan dan berorientasi pada penguatan ekonomi lokal.

Dengan pendekatan kolaboratif, Riau dan Sumatera Barat berharap bisa mengembalikan kejernihan Sungai Kuantan—bukan hanya secara fisik, tapi juga dalam makna budaya dan pariwisata. ***

Editor:Muhammad Rafdinal Adrianto
Kategori:Kabar Bertuah, Balai Kota, Lingkungan, Binawidya
wwwwww