Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
2
Pintu Tol Dalam Kota Pekanbaru akan Sandang Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Pintu Tol Dalam Kota Pekanbaru akan Sandang Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
3
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
4
Ratusan Pengurus IMI Se-Indonesia Padati Pekanbaru, Sektor Perhotelan dan Kuliner Kecipratan Untung
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Ratusan Pengurus IMI Se-Indonesia Padati Pekanbaru, Sektor Perhotelan dan Kuliner Kecipratan Untung
5
Ringankan Beban Wali Murid, Pemkot Pekanbaru Kucurkan Rp13 Miliar Lanjutkan Program Seragam Gratis
Balai Kota
7 jam yang lalu
Ringankan Beban Wali Murid, Pemkot Pekanbaru Kucurkan Rp13 Miliar Lanjutkan Program Seragam Gratis
6
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
3 jam yang lalu
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Home  /  Berita  /  Cendekia

Terbakar dan Terlupakan: Kematian Saksi Korupsi yang Tak Juga Terungkap

Terbakar dan Terlupakan: Kematian Saksi Korupsi yang Tak Juga Terungkap
Polisi melakukan identifikasi di lokasi penemuan jasad Iwan Boedi, ASN Semarang yang ditemukan tewas terbakar (foto:inilahjateng).
Selasa, 08 Juli 2025 07:17 WIB

SEMARANG – Hampir tiga tahun sejak Paulus Iwan Boedi Prasetyo ditemukan tewas mengenaskan di Pantai Marina, kematiannya tetap menjadi misteri. ASN Pemerintah Kota Semarang itu hilang sehari sebelum dijadwalkan menjadi saksi dalam kasus dugaan korupsi hibah tanah tahun 2010. Hingga kini, tak satu pun pelaku diungkap.

"Ia pergi hanya dengan KTP. Semua kartu ATM, dompet, dan ponsel ditinggal. Ini bukan kepergian biasa," ujar Yunanto AS, kuasa hukum keluarga, Senin (7/7/2025).

Jasad Iwan ditemukan pada 8 September 2022 dalam kondisi hangus terbakar dan termutilasi. Identitasnya baru terkonfirmasi beberapa hari kemudian. TKP dipilih di lokasi pembuangan sampah dekat pantai, HP korban dilacak seolah masih aktif, dan pelaporan kehilangan seperti sengaja diulur.

Yunanto menilai cara kematian Iwan sangat sistematis, seolah pelaku tahu betul cara menghapus jejak. "Ini bukan pembunuhan emosional. Ini tindakan profesional, terencana, dan ditujukan untuk menghilangkan saksi penting," katanya.

Iwan diketahui sebelumnya menunjukkan bahwa dana hibah 2010 yang dipermasalahkan sebenarnya masih tercatat sebagai SILPA – tidak digunakan dan tak menyebabkan kerugian negara. Namun, ia diduga tahu lebih dari yang diminta untuk bersaksi.

"Iwan bukan ancaman hukum, tapi mungkin ancaman bagi mereka yang ingin kasus ini tak terbongkar. Dan itu cukup alasan bagi mereka untuk membungkamnya," ujar Yunanto.

Keluarga korban menilai penyelidikan terkesan mandek. Mereka mendesak Mabes Polri dan Bareskrim Polri segera turun tangan. "Ini bukan sekadar kasus pembunuhan. Ini ujian bagi hukum, apakah berani menyentuh tangan-tangan tak terlihat yang mungkin berada di balik kematian Iwan," tegas Yunanto.

Kematian Iwan Boedi menjadi alarm bagi siapa pun yang hendak bersuara dalam kasus korupsi. Saat hukum belum menunjukkan taringnya, keadilan tampak masih jauh dari jangkauan. ***

Editor:Muhammad Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Kampus, Cendekia
wwwwww