Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
2
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
3
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
Tenayan Raya
8 jam yang lalu
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
4
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
5
Kebut Pembangunan Simpang Sebidang, Pemkot Pekanbaru Pasang Lampu Jalan dan Pengatur Lalu Lintas Pintar
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Kebut Pembangunan Simpang Sebidang, Pemkot Pekanbaru Pasang Lampu Jalan dan Pengatur Lalu Lintas Pintar
6
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Home  /  Berita  /  Kesehatan

Ternyata Indonesia Peringkat 5 Negara dengan Penderita Diabetes Terbanyak di Dunia

Ternyata Indonesia Peringkat 5 Negara dengan Penderita Diabetes Terbanyak di Dunia
Sabtu, 08 Januari 2022 08:48 WIB
JAKARTA - Berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF) Atlas 2021 yang dipublikasikan laman diabetesatlas.org menyebut, Indonesia berada di peringkat kelima daftar negara dengan penderita diabetes terbanyak di dunia.

Jumlah pasiennya mencapai 19,5 juta orang. Angka ini diproyeksikan terus meningkat hingga 28,6 juta orang pada 2045. Data lain menyebut (hampir) 1 dari 5 penderita diabetes menderita neuropati diabetik, yakni komplikasi diabetes paling umum dan bisa berdampak signifikan pada pasien.

Ia bisa mengalami infeksi berulang, ulkus yang tak kunjung sembuh, hingga amputasi jari dan kaki. Komplikasi yang paling sering muncul akibat neuropati diabetik, kaki diabetes atau diabetic foot ulcer. Merespons data-data tersebut, baru-baru ini, Perkumpulan Endokrinologi Indonesia Jakarta dan P&G Health Indonesia menggelar webinar bertema “Diabetisi Fit di Era Pandemi.” Dr. dr. Tri Juli Edi Tarigan Sp.PD-KEMD, menjelaskan, neuropati adalah gangguan saraf tepi dengan keluhan tertentu. Penyebabnya beragam. Terbanyak karena kadar gula tinggi atau neuropati diabetik. Gejalanya dimulai dari kebas dan kesemutan.

“Kebas dan kesemutan bisa jadi gejala awal. Ini tak boleh diabaikan. Jika berulang, segera periksa ke dokter. Bisa jadi Anda tak sadar menderita diabetes dan mengalami komplikasi. Deteksi dini membantu pasien mendapat penanganan sejak awal, sebelum terjadi kerusakan saraf yang makin parah. Salah satu cara mengurangi gejala neuropati, yakni melatih fisik serta mengonsumsi vitamin untuk saraf jika perlu,” ujar Tri.

P&G Health Indonesia berkomitmen memerangi diabetes dengan meningkatkan kesadaran masyarakat soal penyakit tersebut lewat edukasi berkelanjutan. Pada 2015 misalnya, P&G dan Dr. Ade Jeanne Domina L. Tobing, Sp.KO, memperkenalkan senam Neuromove. P&G lewat produk Neurobion juga menginisiasi kampanye #Anti2K atau Anti Kebas dan Kesemutan via medsos.

“Semoga masyarakat tidak lagi meremehkan kebas atau kesemutan yang berulang dan bergaya hidup sehat. Selain itu, mengonsumsi vitamin B neurotropik bila perlu,” kata Medical and Technical Affairs Manager P&G Health Indonesia, Dr. Yoska Yasahardja, lewat siaran pers yang kami terima pekan ini. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:tabloidbintang.com
Kategori:Kesehatan
wwwwww