Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Awas Sanksi Tegas, Dishub Pekanbaru Larang Parkir di Bahu Jalan Depan Living World
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Awas Sanksi Tegas, Dishub Pekanbaru Larang Parkir di Bahu Jalan Depan Living World
2
Atasi Genangan Langganan, Pemkot Pekanbaru Kebut Proyek Drainase di 6 Ruas Jalan Prioritas
Kabar Bertuah
4 jam yang lalu
Atasi Genangan Langganan, Pemkot Pekanbaru Kebut Proyek Drainase di 6 Ruas Jalan Prioritas
3
Pusat Kota Pekanbaru Bakal Disulap Mirip Shibuya, Bundaran Jalan Sudirman Dilengkapi Videotron Raksasa
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Pusat Kota Pekanbaru Bakal Disulap Mirip Shibuya, Bundaran Jalan Sudirman Dilengkapi Videotron Raksasa
Home  /  Berita  /  Warga Bertuah

Agar Segera Bisa Produksi Vaksin Merah Putih, DPR Desak Erick Thohir Benahi Bio Farma

Agar Segera Bisa Produksi Vaksin Merah Putih, DPR Desak Erick Thohir Benahi Bio Farma
Menteri BUMN Erick Thohir. (Foto: Istimewa)
Rabu, 28 Juli 2021 15:54 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy

JAKARTA - Daripada memnanggil pulang Rudiansyah, mahasiswa yang turut serta mengembangkan vaksin Astra Zeneca, sebaiknya Erick thohir persiapkan anak buahnya di BUMN Bio Farma untuk produksi massal vaksin Merah Putih.

Demikian diungkapkan Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PKS Mulyanto, mengktitik pernyataan Menteri BUMN Erick Thohir yang ingin memulangkan mahasiswa S3 asal Indonesia sekaligus peneliti vaksin AstraZeneca, Indra Rudiansyah untuk kembali ke dalam negeri.

"Selama ini kendala pengembangan Vaksin Merah Putih ada di pihak BUMN itu sendiri. Akan lebih konkret kalau Menteri BUMN Erick Thohir membereskan BUMN Bio Farma terlebih dahulu," ujarnya kepada GoNews.co, Rabu (28/7/2021).

Mulyanto menyebutkan saat ini riset vaksin Merah Putih, yang salah satunya dimotori LBM (Lembaga Biologi Molekuler) Eijkman, mundur dari jadwal. Semula diperkirakan vaksin ini dapat diproduksi massal pada awal tahun 2022. Namun karena Bio Farma tidak siap, maka produksi massal vaksin ini diperkirakan molor hingga September 2022.

Belakangan diketahui, bahwa ketidaksiapan BUMN Bio Farma tersebut, karena vaksin Merah Putih yang akan dikembangkan didasarkan pada protein rekombinan mamalia. Sementara fasilitas produksi BUMN Bio Farma hanya siap kalau vaksin yang dikembangkan berbasis pada protein rekombinan ragi (yeast).

Akibatnya terpaksa LBM Eijkman harus banting setir mulai dari nol lagi untuk mengembangkan riset vaksin berbasis ragi. "Ini soal keseriusan BUMN Kesehatan untuk memproduksi vaksin domestik. Semestinya mereka mendukung produksi Vaksin Merah Putih, jangan hanya cari untung mudah dari vaksin impor. Kalau memang Menteri BUMN serius terkait pengembangan vaksin anak bangsa, maka ketimbang panggil pulang Rudiansyah, sebaiknya yang jelas di depan mata ini saja segera dibereskan," desaknya.

Ia juga mendesak Erick mempersiapkan berbagai fasilitas uji klinis dan produksi massal vaksin Merah Putih di BUMN Bio Farma, agar vaksin anak bangsa ini dapat dilepas ke masyarakat tepat waktu. "Syukur-syukur bisa lebih cepat dari jadwal yang direncanakan," ujar Mulyanto.

Mulyanto menilai Pemerintah adem-adem saja dan membiarkan riset vaksin ini berjalan apa adanya. Bahkan terkesan maju-mundur seperti joget poco-poco. "Terbukti dana riset vaksin di LBM Eijkman, yang disiapkan Pemerintah tidak lebih dari Rp 10 M. Ini sungguh miris dan jauh dari memadai, apalagi kalau dibandingkan dengan dana yang disiapkan untuk mengimpor vaksin yang ratusan triliun. Seharusnya Pemerintah dapat mengalokasikan dana riset yang cukup, termasuk dukungan infrastruktur pada mitra BUMN yang akan memproduksi, agar vaksin Merah Putih ini dapat diproduksi lebih cepat," papar Mulyanto.

Seperti diketahui saat ini Indonesia memiliki 11 platform riset vaksin Merah Putih yang dijalankan oleh 6 lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi, yakni LBM Eijkman, LIPI, UI, ITB, Unair, dan UGM. Yang tercepat, LBM Eijkman menjadwakan uji klinis tahap 1-3 bersama BUMN Bio Farma pada bulan Juli-Desember 2021 dan target memperoleh ijin BPOM dan diproduksi massal pada bulan Januari 2022.

Tapi karena kondisi infrastruktur produksi vaksin BUMN Bio Farma, yang hanya dapat memproduksi vaksin berbasis protein rekombinan ragi, maka produksi massal vaksin ini diperkirakan paling cepat September 2022.***

wwwwww