Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
2
Bareskrim Polri Tetapkan Jenderal Listyo Sigit Tersangka Penyadapan Ilegal Presiden, Terancam 10 Tahun
Nasional
13 jam yang lalu
Bareskrim Polri Tetapkan Jenderal Listyo Sigit Tersangka Penyadapan Ilegal Presiden, Terancam 10 Tahun
3
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
Tenayan Raya
20 jam yang lalu
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
4
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Kabar Bertuah
20 jam yang lalu
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
5
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
20 jam yang lalu
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
6
Kebut Pembangunan Simpang Sebidang, Pemkot Pekanbaru Pasang Lampu Jalan dan Pengatur Lalu Lintas Pintar
Kabar Bertuah
20 jam yang lalu
Kebut Pembangunan Simpang Sebidang, Pemkot Pekanbaru Pasang Lampu Jalan dan Pengatur Lalu Lintas Pintar
Home  /  Berita  /  Warga Bertuah

Jokowi Diminta Belajar dari Tsunami Aceh, Komandan dan Rencananya Jelas, Hasilnya Membanggakan

Jokowi Diminta Belajar dari Tsunami Aceh, Komandan dan Rencananya Jelas, Hasilnya Membanggakan
Suasana kota yang porak-poranda sesaat pascagempa dan tsunami di Aceh 16 tahun silam. (Foto: Okezone)
Senin, 05 Juli 2021 19:00 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Penanganan tsunami Aceh tahun 2004 seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah saat ini untuk mangatasi pandemi Covid-19. Begitu saran dari ekonom senior Faisal Basri kepada pemerintahan Jokowi lewat akun Twitter pribadinya, Senin (5/7).

Penanganan yang dimaksud adalah adanya kejelasan siapa yang menjadi garda depan dalam mengatasi masalah. Selain itu, ada juga bantuan yang tepat dari pembantu inti dan penanganan yang dilakukan satu pintu.

"Ada rencana aksi yang jelas, tak gonta-ganti. Tak dengar ada kasus korupsi. Dipuji masyarakat internasional. Hasilnya membanggakan," tegasnya.

Kala itu, kata Faisal, segala rintangan diselesaikan dengan cepat. Bahkan Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak perlu menggelar rapat-rapat, mulai dari rakor, ratas, dan sejenisnya.

"Presiden dan para menteri percaya penuh pada komandan perang dan memperikan otoritas penuh,” tegasnya.

Di satu sisi, segenap elemen masyarakat bersatu padu membantu pemerintah. Mulai dari partai, masyarakat, LSM, organisasi keagamaan, dan uluran tangan dari luar negeri. "Saling bahu-membahu, berbagi peran dengan sangat efektif," pungkasnya.***

wwwwww