Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru, Agung Nugroho Incar Peluang Ekonomi Lewat Tuan Rumah Balapan
Gelanggang
20 jam yang lalu
Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru, Agung Nugroho Incar Peluang Ekonomi Lewat Tuan Rumah Balapan
2
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
Balai Kota
19 jam yang lalu
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
3
Pemkot Pekanbaru Catat Inflasi Terendah se-Riau, Harga Cabai Merah Jadi Sorotan Utama
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Catat Inflasi Terendah se-Riau, Harga Cabai Merah Jadi Sorotan Utama
4
Pemkot Pekanbaru Gesa Pemasangan PJU Simpang MTQ, APILL Cerdas Mulai Berfungsi
Kabar Bertuah
21 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Gesa Pemasangan PJU Simpang MTQ, APILL Cerdas Mulai Berfungsi
5
Pemkot Pekanbaru Lanjutkan Program Seragam Sekolah Gratis 2027, Anggaran Capai Rp13 Miliar
Balai Kota
23 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Lanjutkan Program Seragam Sekolah Gratis 2027, Anggaran Capai Rp13 Miliar
6
Dua Blunder Berujung Fatal, PSPS Tertinggal 0-2 dari Bhayangkara FC di Babak Pertama
Sepakbola
10 jam yang lalu
Dua Blunder Berujung Fatal, PSPS Tertinggal 0-2 dari Bhayangkara FC di Babak Pertama
Home  /  Berita  /  Gelanggang
Indonesia Basketball League (IBL) 2021

Memandang dari Sudut yang Berbeda

Memandang dari Sudut yang Berbeda
Direktur Utama IBL, Junas Miradiarsyah.
Sabtu, 15 Mei 2021 21:49 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Direktur Utama Indonesia Basketball League (IBL), Junas Miradiarsyah, bercerita soal sudut pandang mengelola kompetisi dari mantan pemain. Ada banyak hal yang dipelajari Junas saat diberi tanggung jawab memimpin kompetisi basket tertinggi Tanah Air ini.

Junas mulai menjabat Direktur Utama IBL menggantikan Hasan Gozali pada 2019. Tak pernah terbesit dalam benak Junas sebelumnya untuk memegang tanggung jawab sebesar ini.

“Sebenarnya tidak pernah terbayang. Jangankan saat masih jadi pemain, ketika bekerja pun tidak berpikir bisa mengelola liga basket. Berbeda sekali, kalau jadi pemain ‘kan fokus untuk gim, untuk tidak cedera,” ujar Junas.

“Kalau pengurus liga ‘kan banyak. Bagaimana bikin kompetisi menarik, penonton puas, marketing, dan sponsor. Banyak yang harus dipikirkan sebagai pengelola,” imbuhnya.

Dalam perjalanannya memimpin IBL, Junas mengalami berbagai rintangan. Yang tersulit tentu pandemi Covid-19.

IBL 2020 terpaksa dihentikan akibat pandemi Covid-19. Adapun IBL 2021 harus dilangsungkan dengan sistem gelembung.

Situasi kahar ini membuat Junas harus mencari solusi terbaik. Protokol kesehatan ketat kemudian disusun agar IBL 2021 bisa berjalan.

“Pertama kali membuat sistem bubble meraba-raba. Kami lihat sistem dari WHO, FIBA, Perbasi. Kebetulan waktu itu NBA juga mulai ‘kan. Kami banyak adaptasi dari situ, kami pelajari. Secara prinsip bisa berjalan di mana pun. Kebetulan di Jakarta ada Kelapa Gading yang punya fasilitas mumpuni untuk menjalankan konsep bubble. Tak ada revisi karena sistem ini belum ada yang menjalankan. Secara konsep, mereka percaya sistem ini cukup bagus,” ujar Junas.

“Secara teori seharusnya bisa menekan kegiatan di area tersebut agar tidak terpapar Covid-19. Tinggal bagaimana praktik dari konsep di atas kertas,” imbuh Junas.

Fase pertama IBL 2021 pada akhirnya bisa berjalan mulus di Robinson Resort, Cisarua, Jawa Barat. Meski berjalan dengan situasi tak biasa, ada beberapa hal yang bisa dipetik.

“Ada hikmahnya juga, kemarin terbentuk rasa kekeluargaan. Mungkin, kalau tidak ada pandemi ini, belum tentu bisa terjadi suasana tersebut.

Semua bisa merasakan ini sesuatu yang kami perjuangkan bersama. Semua ini tujuannya satu, memajukan basket Indonesia,” ujar Junas. ***

Kategori:Gelanggang
wwwwww