Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
2
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
3
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
Tenayan Raya
8 jam yang lalu
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
4
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
5
Kebut Pembangunan Simpang Sebidang, Pemkot Pekanbaru Pasang Lampu Jalan dan Pengatur Lalu Lintas Pintar
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Kebut Pembangunan Simpang Sebidang, Pemkot Pekanbaru Pasang Lampu Jalan dan Pengatur Lalu Lintas Pintar
6
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Home  /  Berita  /  Hukum

Siswa SMP Gantung Diri Setelah Keluhkan Banyaknya Tugas dari Guru Selama PJJ

Siswa SMP Gantung Diri Setelah Keluhkan Banyaknya Tugas dari Guru Selama PJJ
Ilustrasi jenazah. (int)
Rabu, 28 Oktober 2020 07:20 WIB

TARAKAN - Seorang siswa SMP ditemukan tewas tergantung di rumahnya di RT 32, Kelurahan Sebengkok, Tarakan, Kalimantan Timur, Selasa (27/10) sore, sekitar 17.00 Wita.

Sebelum meninggal, remaja berusia 15 tahun itu sempat mengeluhkan banyaknya tugas yang diberikan guru selama belajar daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).

''Berdasarkan keterangan beberapa saksi, korban ini orangnya pendiam, tapi pernah mengeluh karena banyak tugas dari sekolah,'' kata Kasat Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polresta TarakanIptu Muhammad Aldi saat dihubungi Antara di Tarakan, Selasa (27/10).

Jasad korban kemudian dibawa aparat Polresta Tarakan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan untuk dilakukan visum.

''Hasil visum tidak ditemukan tanda - tanda kekerasan. Posisi korban lidahnya tergigit dan mengeluarkan kotoran, dugaan awal kami memang merupakan murni gantung diri,'' kata Aldi.

Penyidik juga sudah mendatangi dan memeriksa beberapa saksi yang pertama kali menemukan korban di tempat kejadian perkara (TKP).

''Saksi yang diperiksa baik itu dari keluarga atau dari kerabat yang diminta tolong, termasuk orang tua korban,'' kata Aldi.

Warga mengaku prihatin dan meminta agar pihak sekolah dan orangtua menjadikan kasus ini sebagai pelajaran terkait sistem PJJ.

Kartini, salah seorang orangtua siswa di Tarakan, mengatakan, banyaknya tugas yang diberikan guru disertai ancaman tidak mendapat nilai bila tidak mengerjakan, bisa membuat siswa stres.

''Hal yang dikhawatirkan terjadi. Bagaimana anak tidak stres mendapat beban dan ancaman dari pengajar terkait nilai. Belum lagi masalah biaya pulsa dan jaringan internet banyak bermasalah,'' ujar Kartini.

Selain itu, kata Kartini, tidak semua orang tua punya kemampuan dan kesempatan mendampingi dan membantu anaknya belajar di rumah.

Ia berharap, PJJ segera dievaluasi, termasuk sikap para guru yang memberikan banyak tugas dan mengancam siswa.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Warga Bertuah, Hukum
wwwwww