Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
2
Bareskrim Polri Tetapkan Jenderal Listyo Sigit Tersangka Penyadapan Ilegal Presiden, Terancam 10 Tahun
Nasional
6 jam yang lalu
Bareskrim Polri Tetapkan Jenderal Listyo Sigit Tersangka Penyadapan Ilegal Presiden, Terancam 10 Tahun
3
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
Tenayan Raya
13 jam yang lalu
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
4
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
5
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
6
Kebut Pembangunan Simpang Sebidang, Pemkot Pekanbaru Pasang Lampu Jalan dan Pengatur Lalu Lintas Pintar
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Kebut Pembangunan Simpang Sebidang, Pemkot Pekanbaru Pasang Lampu Jalan dan Pengatur Lalu Lintas Pintar
Home  /  Berita  /  Parlemen

Tak Setuju Relawan Jokowi Polisikan Najwa Shihab, Politikus PDIP: Gak Usah Lebay!

Tak Setuju Relawan Jokowi Polisikan Najwa Shihab, Politikus PDIP: Gak Usah Lebay!
Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDIP, Charles Honoris. (Istimewa)
Rabu, 07 Oktober 2020 14:58 WIB
JAKARTA - Relawan Jokowi Bersatu melaporkan Najwa Shihab karena mewawancarai 'bangku kosong' yang seolah-olah Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDIP, Charles Honoris menilai pelaporan polisi tersebut berlebihan atau lebay.

"Langkah pelaporan polisi ini berlebihan. Lebay menurut saya," kata Charles kepada wartawan pada Rabu (7/10/2020).

Menurut Charles, siaran 'bangku kosong' yang dilakukan Najwa Shihab merupakan bentuk kreativitas. Terlebih, karena pejabat yang bersangkutan sulit diakses untuk melakukan wawancara. "Yang saya lihat dari wawancara Najwa kemarin adalah kreativitas seorang jurnalis yang sulit mendapatkan akses wawancara seorang pejabat," ujarnya.

Bahkan, Charles juga meyakini Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak setuju dengan pelaporan tersebut. Menurutnya, Jokowi adalah sosok yang menghormati perbedaan pendapat.

"Saya meyakini Pak Jokowi yang kita tahu sangat menghormati perbedaan pendapat selama ini juga tidak merasa terganggu dan tidak setuju dengan pelaporan tersebut, beliau fokus pada kerja nyata saja," ucap Charles

Lebih lanjut, Charles mengatakan saat ini adalah era demokrasi. Pelaporan ke polisi hanya bisa dilakukan jika ada batasan demokrasi yang dilanggar, seperti ujaran kebencian atau SARA.

"Ini era demokrasi, ketika kritik harus dibalas dengan argumentasi, dan sindiran harus dijawab dengan kinerja. Pelaporan hanya bisa dilakukan apabila ada batas-batas rambu demokrasi yang sudah dilampaui, seperti ujaran kebencian atau SARA," tutur Charles.

Politikus PDI Perjuangan ini kemudian menyarankan agar Relawan Jokowi Bersatu dapat belajar untuk hidup berdemokrasi. Khususnya, terkait kebebasan berpendapat dan berekspresi.

"Saran saya belajarlah hidup berdemokrasi. Demokrasi bukan sekedar pemilihan umum dan suara terbanyak, tetapi mengandung nilai-nilai yang tidak terpisahkan seperti kebebasan berpendapat dan berekspresi. Begitu juga kontrol sosial oleh masyarakat (termasuk media) terhadap pemerintah," ujar Charles.

Diberitakan sebelumnya, Relawan Jokowi Bersatu melaporkan Najwa Shihab ke Polda Metro Jaya. Najwa Shihab dilaporkan setelah mewawancarai 'bangku kosong' yang seolah-olah Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto dalam program Mata Najwa.

Menurut Ketua Umum Relawan Jokowi Bersatu, Silvia Devi Soembarto, aksi Najwa Shihab wawancara 'kursi kosong' itu merupakan tindakan cyber bullying. Silvia juga mengatakan pihaknya tergerak untuk melaporkan Nana, sapaan akrab Najwa Shihab, karena Menteri Terawan adalah representasi Presiden Joko Widodo.

"(Tindakan yang dipersangkakan) cyber bullying karena narasumber tidak hadir kemudian diwawancarai dan dijadikan parodi. Parodi itu suatu tindakan yang tidak boleh dilakukan kepada pejabat negara, khususnya menteri," kata Silvia kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (6/10)

Namun laporan Silvia ditolak polisi. Polisi mengarahkan Silvia untuk melapor ke Dewan Pers karena Najwa Shihab adalah seorang jurnalis, yang dilindungi oleh UU Pers.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Detik.com
Kategori:Warga Bertuah, Balai Kota, Parlemen
wwwwww