Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
2
Pintu Tol Dalam Kota Pekanbaru akan Sandang Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Pintu Tol Dalam Kota Pekanbaru akan Sandang Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
3
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
4
Ratusan Pengurus IMI Se-Indonesia Padati Pekanbaru, Sektor Perhotelan dan Kuliner Kecipratan Untung
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Ratusan Pengurus IMI Se-Indonesia Padati Pekanbaru, Sektor Perhotelan dan Kuliner Kecipratan Untung
5
Ringankan Beban Wali Murid, Pemkot Pekanbaru Kucurkan Rp13 Miliar Lanjutkan Program Seragam Gratis
Balai Kota
7 jam yang lalu
Ringankan Beban Wali Murid, Pemkot Pekanbaru Kucurkan Rp13 Miliar Lanjutkan Program Seragam Gratis
6
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
3 jam yang lalu
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Home  /  Berita  /  Kuliner

Lebih 360 Gajah Mati Misterius dalam 3 Bulan Terakhir

Lebih 360 Gajah Mati Misterius dalam 3 Bulan Terakhir
Bangkai gajah. (liputan6.com)
Jum'at, 03 Juli 2020 13:39 WIB
BOTSWANA - Lebih 360 ekor gajah mati di Botswana, Afrika, dalam tiga bulan terakhir. Hingga kini penyebab kematian ratusan gajah tersebut masih misterius.

Dikutip dari Liputan6.com, Direktur Konservasi National Park Rescue Inggris Niall McCann, mengatakan, sejumlah bangkai gajah ditemukan berkerumun di sekitar lubang air, sementara yang lain tampaknya telah mati dengan keadaan tersungkur.

Penjaga mengungkapkan, sampai saat ini gajah yang masih hidup secara fisik lemah dan satu berjalan berputar-putar tidak dapat mengendalikan arah. Sedangkan spesies lainnya yang berada di situ tampaknya tak terpengaruh dengan kondisi gajah-gajah tersebut.

Pemerintah Botswana sedang menguji sampel dari gajah yang mati, tetapi belum bisa menentukan penyebab kematian. McCann menjelaskan, data perihal jumlah kematian yang tak wajar dari gajah-gajah tersebut telah dicatat sejak awal Mei.

''Ini sangat mengerikan, kita perlu tahu apa yang sedang terjadi,'' katanya, seraya menambahkan, dia tidak dapat mengingat kapan terakhir kali masalah seperti ini terjadi.

Botswana adalah rumah bagi 130.000 gajah Afrika, lebih banyak dari negara mana pun di benua ini. ''Delta Okavango, tempat bangkai ditemukan, adalah rumah bagi sekitar 10% gajah di negara ini,'' jelas McCann.

Tahun lalu, Botswana membatalkan larangan berburu gajah yang telah diberlakukan sejak tahun 2014. Hal ini tentu saja memicu kemarahan internasional.

McCann mengatakan, perburuan tidak lagi bisa dihiraukan saat ini, meskipun gadingnya masih ada di gajah.

''800 dari mereka tergeletak di sekitar sebagai magnet bagi para penjahat,'' tambahnya.

McCann mengatakan ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan kematian gajah gajah tersebut, mungkin saja karena parasit atau bahkan Covid-19.

''Apa yang ingin saya tekankan adalah bahwa ini bisa berpotensi menjadi krisis kesehatan masyarakat,'' ujarnya. McCann juga menambahkan bahwa apa pun penyebabnya, penting untuk menyelesaikannya karena secara global jumlah kematian gajah gajah tersebut sangat signifikan.

Sensus Gajah Besar pertama, survei pan-Afrika yang dilakukan pada 2016, mengungkapkan hanya dalam tujuh tahun (2007-2014) jumlah gajah anjlok setidaknya 30%, atau 144.000. Maka dari itu, dalam Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature), Gajah Afrika diklasifikasikan sebagai hewan yang rentan. ***

Editor:hasan b
Sumber:liputan6.com
Kategori:Hukum, Kuliner
wwwwww