Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru, Agung Nugroho Incar Peluang Ekonomi Lewat Tuan Rumah Balapan
Gelanggang
13 jam yang lalu
Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru, Agung Nugroho Incar Peluang Ekonomi Lewat Tuan Rumah Balapan
2
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
Balai Kota
12 jam yang lalu
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
3
Pemkot Pekanbaru Catat Inflasi Terendah se-Riau, Harga Cabai Merah Jadi Sorotan Utama
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Catat Inflasi Terendah se-Riau, Harga Cabai Merah Jadi Sorotan Utama
4
Pemkot Pekanbaru Gesa Pemasangan PJU Simpang MTQ, APILL Cerdas Mulai Berfungsi
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Gesa Pemasangan PJU Simpang MTQ, APILL Cerdas Mulai Berfungsi
5
Pemkot Pekanbaru Lanjutkan Program Seragam Sekolah Gratis 2027, Anggaran Capai Rp13 Miliar
Balai Kota
15 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Lanjutkan Program Seragam Sekolah Gratis 2027, Anggaran Capai Rp13 Miliar
6
Pemkot Pekanbaru Latih Nakes Puskesmas Jadi Pendamping Posyandu, Dukung Penerapan Standar Pelayanan Minimal
Balai Kota
17 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Latih Nakes Puskesmas Jadi Pendamping Posyandu, Dukung Penerapan Standar Pelayanan Minimal
Home  /  Berita  /  Kesehatan

Ilmuwan Australia Yakin Virus Corona Dibuat di Laboratorium, Ini Sejumlah Alasannya

Ilmuwan Australia Yakin Virus Corona Dibuat di Laboratorium, Ini Sejumlah Alasannya
Ilustrasi virus corona menempel pada sel manusia. (int)
Jum'at, 29 Mei 2020 09:23 WIB
SYDNEY - Ilmuwan vaksin asal Australia, Nikolai Petrovsky, meyakini virus corona dibuat manusia di laboratorium.

Dikutip dari Sindonews.com, Petrovsky yakin virus buatan manusia karena mampu beradaptasi hampir sempurna pada manusia dan melekat lebih baik pada sel manusia.

''Virus corona melekat lebih baik pada sel manusia dibandingkan hewan lainnya. Hal ini menjelaskan alasan corona telah menginfeksi (lebih dari) lima juta orang (di seluruh dunia),'' kata Petrovsky, dikutip dari DailyMail, Kamis (28/5/2020).

Tim dari Flinders University di Adelaide dan Latrobe University di Melbourne, melakukan penelitian terkait seberapa baik SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19, menginfeksi hewan yang berbeda.

Hasilnya, virus corona mengikatkan diri pada molekul reseptor ACE2 dalam sel paru-paru menggunakan lonjakan protein. Semakin erat virus itu melekat, semakin tipis kemungkinan untuk dihilangkan, dan semakin besar potensi penyakit ini menjadi inang.

Sebenarnya Petrovsky berharap bisa menemukan hewan yang paling rentan terhadap virus itu, semisal kelelawar, dan juga menjadi sumber asli virus. Namun, dia terkejut ketika menemukan bahwa manusialah yang paling rentan.

Lebih lanjut, menurut dia, ketika menginfeksi tempat baru, virus biasanya membutuhkan waktu untuk menjadi lebih kuat. Tetapi tidak bagi Covid-19, tanpa perlu berevolusi sudah langsung optimal sejak pertama kali tertular.

''Ini adalah virus baru yang belum pernah ada pada manusia. Tetapi yang mengejutkan, memiliki ikatan yang sangat tinggi pada reseptor manusia,'' tandasnya. ***

Editor:hasan b
Sumber:sindonews.com
Kategori:Kesehatan
wwwwww