Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
Balai Kota
24 jam yang lalu
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
2
Dua Blunder Berujung Fatal, PSPS Tertinggal 0-2 dari Bhayangkara FC di Babak Pertama
Sepakbola
15 jam yang lalu
Dua Blunder Berujung Fatal, PSPS Tertinggal 0-2 dari Bhayangkara FC di Babak Pertama
3
Hujan Petir Melanda Pekanbaru, Laga Sengit PSPS Kontra Bhayangkara FC Tetap Bergulir
Gelanggang
16 jam yang lalu
Hujan Petir Melanda Pekanbaru, Laga Sengit PSPS Kontra Bhayangkara FC Tetap Bergulir
4
Duel di Tengah Guyuran Hujan Pekanbaru, PSPS Pasang Duet Gamaroni dan Ilham Hadapi Bhayangkara FC
Gelanggang
16 jam yang lalu
Duel di Tengah Guyuran Hujan Pekanbaru, PSPS Pasang Duet Gamaroni dan Ilham Hadapi Bhayangkara FC
5
Diwarnai Drama VAR dan Penalti, Askar Bertuah Telan Kekalahan Perdana di Pekanbaru
Sepakbola
13 jam yang lalu
Diwarnai Drama VAR dan Penalti, Askar Bertuah Telan Kekalahan Perdana di Pekanbaru
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Tergerus Bisnis Online, Toko-toko Mulai tak Beriklan, Aprindo: Kalau Jor-joran Beriklan Sama Saja Bakar Duit

Tergerus Bisnis Online, Toko-toko Mulai tak Beriklan, Aprindo: Kalau Jor-joran Beriklan Sama Saja Bakar Duit
Minggu, 29 Oktober 2017 09:09 WIB
JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menilai bahwa penambahan iklan bukanlah solusi untuk mengembalikan kejayaannya departement store. Saat ini pengusaha ritel di Indonesia memutuskan untuk menutup sejumlah gerai ritel modern. Langkah ini dilakukan di tengah persaingan dengan bisnis belanja online atau online shop yang semakin menjamur.

"Kalau kami tambah iklan, jor-joran iklan, itu (sama saja) ngebakar duit. Enggak akan balik (modal)," kata Wakil Ketua Aprindo Tutum Rahanta dalam acara talkshow Radio Trijaya FM di Jakarta, Sabtu (28/10/2017).

Menurut Aprindo, penambahan iklan perlu dipikirkan secara matang karena sebagian besar barang yang dijual di department store atau toko serba ada (toserba) sudah diiklankan oleh produsennya. Adapun barang dengan brand milik ritel itu sendiri masih terbatas.

Sementara itu, kata Tutum, ritel online sangat membutuhkan iklan lantaran barang yang dijual tidak bisa dilihat fisiknya oleh konsumen secara langsung. Tak hanya itu, iklan juga dijadikan ajang promosi perusahaan.

"Kalau mereka kan ada sesuatu yang tujuan tertentu, (agar) nilai perusahaan itu baik, untuk institusi. Agar investornya tambah terus," kata Tutum.

Perusahaan-perusahaan e-commerce kerap mendapat suntikan dana dari para investor. Tidak hanya investor dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Oleh karena itu, promosi dinilai penting untuk menaikan nilai "jual" perusahaan.

Berdasarkan riset Adstensity, yang merupakan produk monitoring iklan televisi milik PT Sigi Kaca Pariwara, nilai iklan toserba jauh tertinggal dari ritel online atau perusahaan e-commerce.

Dari Januari-September 2017, iklan toserba di televisi mencapai Rp 40 miliar. Angka ini menurun 50 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Adapun iklan ritel online di televisi justru mencapai Rp 1,2 triliun sejak Januari-September 2017. Angka ini belum ditambah iklan di media cetak dan online yang juga aktif dilakukan oleh ritel online.

Saat ini, ritel online yang belanja iklan di televisi mencapai 16 perusahaan. Delapan di antaranya memilki nilai iklan di atas Rp 40 miliar atau lebih besar dari seluruh iklan toserba.

Sementara itu, departement store yang aktif beriklan di televisi hanya tiga, yaitu Matahari, Ramayana, dan Metro Departement Store. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:kompas.com
Kategori:GoNews Group, Pasar & Niaga
wwwwww