Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Putusan MA Anulir Suket Gibran Rakabuming, Publik Soroti Ancaman Pemakzulan Wapres
Nasional
11 jam yang lalu
Putusan MA Anulir Suket Gibran Rakabuming, Publik Soroti Ancaman Pemakzulan Wapres
2
Sasar Sarang Narkoba, Tim Gabungan Polresta Pekanbaru Jaring Empat Pengunjung Kelab Malam
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Sasar Sarang Narkoba, Tim Gabungan Polresta Pekanbaru Jaring Empat Pengunjung Kelab Malam
3
Tumpukan Sampah Jadi Biang Kerok Meluapnya Drainase di Ruas Jalan Pekanbaru
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Tumpukan Sampah Jadi Biang Kerok Meluapnya Drainase di Ruas Jalan Pekanbaru
4
Drama Epic Comeback, Tandukan Pramudya dan Penalti Gamaroni Bawa PSPS Pekanbaru Tekuk PSGC 2-1
Sepakbola
4 jam yang lalu
Drama Epic Comeback, Tandukan Pramudya dan Penalti Gamaroni Bawa PSPS Pekanbaru Tekuk PSGC 2-1
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Unggah Film Pojokkan Islam, Polri Dinilai Tidak Hati-hati

Unggah Film Pojokkan Islam, Polri Dinilai Tidak Hati-hati
Widodo Umar. (republika.co.id)
Rabu, 28 Juni 2017 20:31 WIB
JAKARTA - Humas Polri pada Kamis (23/6) mengunggah film dokumenter "Kau adalah Aku yang Lain". Film tersebut dinilai sangat memojokkan umat Islam.

Pengamat Kepolisian Bambang Widodo Umar mengingatkan, polisi seharusnya lebih hati-hati atau mempertimbangkan lebih teliti terkait dengan hal yang berpotensi memojokkan umat agama tertentu.

"Seharusnya polisi mempertimbangkĂ n dengan teliti dan hati-hati terhadap video tersebut, di mana penampilannya jangan sampai menyudutkan umat tertentu," kata Bambang, Rabu (28/6).

Dengan penampilan video tersebut, kata Bambang, yang diperkirakan polisi dapat mengundang simpati dari masyarakat luas, justru bisa sebaliknya.

Mencari citra dengan cara demikian, menurut dia, tidak akan tercapai. Justru sikap objektif, tidak memihak harus ditunjukkan dalam tugas sehari-hari kepolisian.

''Itulah yang akan mengundang simpati masyarakat,'' kata dia.

Saat diunggah akun Humas Polri pada Kamis (23/6) lalu, video tersebut menuai kontroversi. Sebagian menganggap menyindir Islam, namun sebagian menilai justru karakter dalam film sudah berimbang dan menjadi bahan evaluasi tersendiri untuk Muslim.

Adapun film pendek berdurasi 6:55 menit itu menggambarkan situasi darurat seorang warga non Muslim yang berada dalam ambulans. Saat menuju rumah sakit, di tengah jalan, ada sebuah pengajian sedang berlangsung. Ada setidaknya empat karakter yang ditonjolkan.

Pertama, polisi yang meminta permisi sebagai petugas dan mengkritik si mbah karena tidak mengizinkan ambulans lewat. Karakter kedua, si mbah yang digambarkan kurang toleran. Tiga, jamaah Muslim pengajian yang mencoba meluruskan pandangan si mbah. Dan terakhir ustaz yang mebawakan ceramah dalam pengajian.***

Editor:tenis meja
Sumber:republika.co.id
Kategori:GoNews Group, Kabar Bertuah
wwwwww