Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru, Agung Nugroho Incar Peluang Ekonomi Lewat Tuan Rumah Balapan
Gelanggang
14 jam yang lalu
Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru, Agung Nugroho Incar Peluang Ekonomi Lewat Tuan Rumah Balapan
2
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
Balai Kota
14 jam yang lalu
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
3
Pemkot Pekanbaru Catat Inflasi Terendah se-Riau, Harga Cabai Merah Jadi Sorotan Utama
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Catat Inflasi Terendah se-Riau, Harga Cabai Merah Jadi Sorotan Utama
4
Pemkot Pekanbaru Gesa Pemasangan PJU Simpang MTQ, APILL Cerdas Mulai Berfungsi
Kabar Bertuah
15 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Gesa Pemasangan PJU Simpang MTQ, APILL Cerdas Mulai Berfungsi
5
Pemkot Pekanbaru Lanjutkan Program Seragam Sekolah Gratis 2027, Anggaran Capai Rp13 Miliar
Balai Kota
17 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Lanjutkan Program Seragam Sekolah Gratis 2027, Anggaran Capai Rp13 Miliar
6
Pemkot Pekanbaru Latih Nakes Puskesmas Jadi Pendamping Posyandu, Dukung Penerapan Standar Pelayanan Minimal
Balai Kota
19 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Latih Nakes Puskesmas Jadi Pendamping Posyandu, Dukung Penerapan Standar Pelayanan Minimal
Home  /  Berita  /  Balai Kota

Banjir Mengisolasi, Lapar Memaksa: Kisah Warga Aceh yang Berjuang Menembus Terputusnya Akses

Banjir Mengisolasi, Lapar Memaksa: Kisah Warga Aceh yang Berjuang Menembus Terputusnya Akses
Rahmansyah, warga Desa Arul Gading, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. (foto: hedi/kumparan)
Rabu, 03 Desember 2025 14:52 WIB

JAKARTA – Ada kalanya bencana tidak hanya merendam rumah dan memutus jembatan, tetapi juga meruntuhkan ruang aman paling dasar: kemampuan untuk makan. Itulah yang dirasakan warga Desa Arul Gading, Bener Meriah. Sudah dua hari perut mereka kosong, dan dalam keheningan itu, suara keluarga yang kelaparan menjadi desakan paling menyayat.

Untuk mengakhiri keresahan itu, Rahmansyah memberanikan diri melakukan perjalanan yang tak pernah ia bayangkan: berjalan kaki delapan jam menembus rute yang rusak parah demi menemukan satu hal—beras.

“Kami dua hari tak ada makanan, Pak… Banyak yang kelaparan,” kata Rahmansyah setibanya di posko Baguna PDI Perjuangan di Bireuen. Napasnya masih terengah, tetapi nada suaranya menunjukkan betapa berat beban yang ia pikul.

Desanya terputus total. Jembatan patah, jalan longsor, dan sampan menjadi satu-satunya alat untuk menyeberang. Para warga ingin membeli beras, tetapi tidak ada satupun yang dijual. Kalaupun muncul tiba-tiba, harganya melambung seperti memanfaatkan kepanikan warga.

Dalam kondisi serba gelap—tanpa listrik, tanpa sinyal—Rahmansyah dan tiga pemuda lain tak punya pilihan selain mencoba peruntungan ke Bireuen. Yang mereka bawa bukan uang, melainkan doa dan sedikit uang kas masjid yang diputuskan bersama sebagai ongkos perjalanan.

Perjalanannya penuh ujian: menyeberangi sungai dengan sampan seadanya, melewati jembatan darurat berupa tali seling yang menggantung di udara, memanjat tebing jalan yang ambles, lalu menumpang ojek di tengah jalan berlumpur. Setiap langkah adalah taruhan untuk hidup 500 warga yang menunggu di dusun. 

“Kalau tidak kami lakukan sekarang, entah apa yang terjadi pada anak-anak di desa,” ujar Rahmansyah.

Saat tiba di posko Baguna, ia tidak tahu apakah beras tersedia atau tidak. Tetapi hari itu keberuntungan berpihak. Ketua DPD PDIP Aceh, Jamaluddin Idham, segera menggerakkan bantuan: puluhan sak beras, susu bayi, telur, dan makanan cepat saji disiapkan untuk menghidupi warga Arul Gading.

“Kami berusaha menjangkau seluruh wilayah yang terkena dampak. Jika jalannya tidak bisa dilalui, kami cari cara lain agar bantuan tetap sampai,” kata Jamaluddin.

Namun perjuangan seperti Rahmansyah bukanlah pengecualian. Banyak wilayah lain di Aceh—terutama Aceh Tengah, Tamiang, dan Bener Meriah—masih terisolasi. Beberapa hanya bisa dijangkau lewat udara. Di beberapa desa di Bireuen, warga kehilangan pakaian dan barang-barang rumah. Yang tersisa hanya tubuh yang menggigil dan harapan bahwa bantuan segera datang.

Dalam bencana ini, jalanan ambruk, rumah hanyut, dan pagar hilang. Tetapi yang paling menyesakkan adalah kenyataan bahwa manusia harus menempuh medan ekstrem hanya untuk mendapatkan makanan pokok.

Rahmansyah membawa pulang beras hari itu. Tapi lebih dari itu, ia membawa pulang pesan kuat: bahwa ketika negara terlambat menjangkau mereka, warga desa bertahan dengan keberanian, solidaritas, dan langkah kaki yang tak menyerah meski dunia di sekeliling mereka runtuh. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kumparan.com
Kategori:Kampus, Warga Bertuah, Balai Kota, Binawidya
wwwwww