Banjir Mengisolasi, Lapar Memaksa: Kisah Warga Aceh yang Berjuang Menembus Terputusnya Akses
![]() |
| Rahmansyah, warga Desa Arul Gading, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. (foto: hedi/kumparan) |
JAKARTA – Ada kalanya bencana tidak hanya merendam rumah dan memutus jembatan, tetapi juga meruntuhkan ruang aman paling dasar: kemampuan untuk makan. Itulah yang dirasakan warga Desa Arul Gading, Bener Meriah. Sudah dua hari perut mereka kosong, dan dalam keheningan itu, suara keluarga yang kelaparan menjadi desakan paling menyayat.
Untuk mengakhiri keresahan itu, Rahmansyah memberanikan diri melakukan perjalanan yang tak pernah ia bayangkan: berjalan kaki delapan jam menembus rute yang rusak parah demi menemukan satu hal—beras.
“Kami dua hari tak ada makanan, Pak… Banyak yang kelaparan,” kata Rahmansyah setibanya di posko Baguna PDI Perjuangan di Bireuen. Napasnya masih terengah, tetapi nada suaranya menunjukkan betapa berat beban yang ia pikul.
Desanya terputus total. Jembatan patah, jalan longsor, dan sampan menjadi satu-satunya alat untuk menyeberang. Para warga ingin membeli beras, tetapi tidak ada satupun yang dijual. Kalaupun muncul tiba-tiba, harganya melambung seperti memanfaatkan kepanikan warga.
Dalam kondisi serba gelap—tanpa listrik, tanpa sinyal—Rahmansyah dan tiga pemuda lain tak punya pilihan selain mencoba peruntungan ke Bireuen. Yang mereka bawa bukan uang, melainkan doa dan sedikit uang kas masjid yang diputuskan bersama sebagai ongkos perjalanan.
Perjalanannya penuh ujian: menyeberangi sungai dengan sampan seadanya, melewati jembatan darurat berupa tali seling yang menggantung di udara, memanjat tebing jalan yang ambles, lalu menumpang ojek di tengah jalan berlumpur. Setiap langkah adalah taruhan untuk hidup 500 warga yang menunggu di dusun.
“Kalau tidak kami lakukan sekarang, entah apa yang terjadi pada anak-anak di desa,” ujar Rahmansyah.
Saat tiba di posko Baguna, ia tidak tahu apakah beras tersedia atau tidak. Tetapi hari itu keberuntungan berpihak. Ketua DPD PDIP Aceh, Jamaluddin Idham, segera menggerakkan bantuan: puluhan sak beras, susu bayi, telur, dan makanan cepat saji disiapkan untuk menghidupi warga Arul Gading.
“Kami berusaha menjangkau seluruh wilayah yang terkena dampak. Jika jalannya tidak bisa dilalui, kami cari cara lain agar bantuan tetap sampai,” kata Jamaluddin.
Namun perjuangan seperti Rahmansyah bukanlah pengecualian. Banyak wilayah lain di Aceh—terutama Aceh Tengah, Tamiang, dan Bener Meriah—masih terisolasi. Beberapa hanya bisa dijangkau lewat udara. Di beberapa desa di Bireuen, warga kehilangan pakaian dan barang-barang rumah. Yang tersisa hanya tubuh yang menggigil dan harapan bahwa bantuan segera datang.
Dalam bencana ini, jalanan ambruk, rumah hanyut, dan pagar hilang. Tetapi yang paling menyesakkan adalah kenyataan bahwa manusia harus menempuh medan ekstrem hanya untuk mendapatkan makanan pokok.
Rahmansyah membawa pulang beras hari itu. Tapi lebih dari itu, ia membawa pulang pesan kuat: bahwa ketika negara terlambat menjangkau mereka, warga desa bertahan dengan keberanian, solidaritas, dan langkah kaki yang tak menyerah meski dunia di sekeliling mereka runtuh. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | kumparan.com |
| Kategori | : | Kampus, Warga Bertuah, Balai Kota, Binawidya |











