Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru, Agung Nugroho Incar Peluang Ekonomi Lewat Tuan Rumah Balapan
Gelanggang
17 jam yang lalu
Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru, Agung Nugroho Incar Peluang Ekonomi Lewat Tuan Rumah Balapan
2
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
Balai Kota
17 jam yang lalu
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
3
Pemkot Pekanbaru Catat Inflasi Terendah se-Riau, Harga Cabai Merah Jadi Sorotan Utama
Kabar Bertuah
19 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Catat Inflasi Terendah se-Riau, Harga Cabai Merah Jadi Sorotan Utama
4
Pemkot Pekanbaru Gesa Pemasangan PJU Simpang MTQ, APILL Cerdas Mulai Berfungsi
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Gesa Pemasangan PJU Simpang MTQ, APILL Cerdas Mulai Berfungsi
5
Pemkot Pekanbaru Lanjutkan Program Seragam Sekolah Gratis 2027, Anggaran Capai Rp13 Miliar
Balai Kota
20 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Lanjutkan Program Seragam Sekolah Gratis 2027, Anggaran Capai Rp13 Miliar
6
Pemkot Pekanbaru Latih Nakes Puskesmas Jadi Pendamping Posyandu, Dukung Penerapan Standar Pelayanan Minimal
Balai Kota
22 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Latih Nakes Puskesmas Jadi Pendamping Posyandu, Dukung Penerapan Standar Pelayanan Minimal
Home  /  Berita  /  Gelanggang

Pemain Naturalisasi Datang, Akamsi Terlupakan

Pemain Naturalisasi Datang, Akamsi Terlupakan
Ilustrasi Foto Timnas Indonesia. (PSSI)
Rabu, 02 Juli 2025 17:49 WIB
Penulis: Azhari Nasution
PEKAN ini iseng-ising membuka file foto di telepon selular. Salah satu gambar cukup menggelitik spanduk bertuliskan "Naturalisasi Bukan Kami.....Kami Anak Kampung Sini (Akamsi)". Setelah saya telusuri spanduk tersebut dikirim Sarman El Hakim, Ketua Masyarakat Sepakbola Indonesia (MSBI). Pengakuannya spanduk panjang itu pernah dipasang pada salah satu jembatan penyebrangan yang berada di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.

Cukup menggelitik naruli saya sebagai wartawan. Apalagi, saya melihat ada kiriman kalimat "Pemain AKAMSI..tidak kenal agen pemain..bermain atas nama bangsa dan negara..Hidup dan Mati di lapangan. Suatu kebanggaan..benderanya Merah Putih..bukan Merah dan Putih".

"Ya, saya yang memasang spanduk tersebut. Akamsi memang sudah terlupakan dan tempatnya akan semakin kecil di Timnas saat PSSI dipimpin Erick Thohir. Itu fakta yang tidak terbantahkan. Lihat saja perburuan pemain asing terus dilakukan dengan mengesampingkan pembinaan anak-anak negeri. Sampai kapan ini semua berakhir? Yang pasti, mimpi anak-anak negeri menggunakan jersey Timnas Indonesia sudah mengecil dan kalau terus dibiarkan akan terkubur," kata Sarman saat dikonfirmasi.

Spanduk dari Sarman El Hakim memang tidak viral seperti halnya Timnas Indonesia ketika mengalahkan China dengan skor 1-0 pada putaran ketiga Piala Dunia 2025 Zona Asia yang berlangsung di Stadion Utama Gerlora Bung Karno (SUGBK) Jakarta, 5 April lalu. Begitu juga saat tim asuhan Patrick Kluivert dipermalukan Jepang 0-6 yang menimbulkan pro dan kontra pada pertandingan pemuncak putaran ketiga tersebut.

Meski perjuangan Timnas Indonesia semakin berat dengan pesaing Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Oman, dan Qatar untuk memperebutkan satu tiket pada putaran keempat tersebut, tetapi masyarakat masih tetap menaruh harapan Pasukan Garuda lolos. Bahkan, Ketua Umum PSSI Erick Thohir terus saja memburu pemain naturalisasi tanpa henti.

Tidak terasa sudah 26 jumlah pemain maturalisasi (16 pemain Timnas Senior, 5 pemain Timnas Putri dan 5 Timnas U 20). Yang cukup mengagetkan lagi, PSSI menyebutnya tidak mengeluarkan biaya untuk naturalisasi dan menyebut mereka senang bisa bergabung dengan Timnas Indonesia.

Kita percaya saja dengan pernyataan yang dibuat pejabat PSSI tersebut. Tetapi, banyak isu berkembang. Itu tidak mungkin. Bahkan, salah satu agen pemain asing yang enggan disebutkan jatidirinya hanya melontarkan kalimat, "Pastilah ada kompensasinya. Mereka itu kan punya agen. Saya ragu pemain naturalisasi tersebut dilepas begitu saja. This is a business."

"Tidak ada yang salah jika ada keraguan dengan pernyataan PSSI tersebut. Mana ada sih bang-makan siang gratis di dunia ini. Apalagi, pemain natursalisasi yang direkrut sudah merumput di kluk-klub besar," kata Taufik Jursal Effendi, mantan pengurus PSSI.

WartaPKU Spanduk Akamsi. (dok. Sarman E
Spanduk Akamsi. (dok. Sarman El Hakim)

Sejak PSSI dipimpin Erick Thohir yang juga Menteri Badan Usaha Milik Negara ini, popularitas sepakbola melambung tinggi. Popularitas itu menutup "jeritan" pemain lokal yang sudah menipis mengisi skuad Timnas Indonesia baik untuk Timnas Senior maupun Timnas U 17 dimana sudah dipenuhi pemain naturalisasi.

"Jeritan itu tak terdengar karena popularitas pemain naturalisasi. Tapi, saya bisa merasakan bagaimana perasaan pemain lokal dan orangtuanya yang sudah mengorbankan segalanya melihat pintu masuk ke timnas sudah semakin mengecil," ujar Taufik Uban, panggilan karibnya yang juga Sekretaris Liga Jakarta U 17.

"Tidak ada yang salah memang jika ada naturalisasi dilakukan PSSI. Namun, Erick Thohir sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap pembinaan sepakbola jangan hanya mengejar popularitas semata. Masa depan sepakbola Indonesia ke depan juga patut dipikirkannya setelah tidak lagi memimpin," tambahnya.

Kritik yang disampaikan Taufik Uban ini cukup beralasan. Faktanya, PSSI tidak memikirkan program pembinaan melalui kompetisi usia muda dan hanya puas dengan turnamen.

Tidak hanya itu saja, PSSI terkesan membiarkan Asprov PSSI se-Indonesia tidak menggelar kompetisi. Sebagai contoh, Taufik menyebut Asprov PSSI DKI Jakarta yang dijabat Plt Eko Setyawan. Padahal, Eko Setyawan yang tercatat sudah menjabat selama tiga tahun terus dipertahankan tanpa menggelar kompetisi.

"Kok bisa ya...Plt Ketua Asprov PSSI DKI Jakarta dibiarkan menjabat selama tiga tahun tanpa menggelar kompetisi. Padahal, kompetisilah yang bisa melahirkan pemain berkualitas. Yang lebih membingungkan lagi, Exco PSSI terkesan membiarkan semua ini terjadi, padahal mereka punya wewenang dalam menentukan arah pembinan sepakbola di Tanah Air," kata Taufik Uban.

Ketua Panitia Penyelenggara Liga Jakarta U 17 Rio Ari Bowo juga mempertanyakan kepemimpinan Eko Setyawan di Asprov PSSI DKI Jakarta yang tidak menggelar kompetisi dalam upaya membangkitkan kembali prestasi sepakbola DKI Jakarta.

"Saya ini masyarakat sepakbola yang asli punya KTP DKI Jakarta ini merasa dirugikan. Sebagai anggota Exco PSSI yang memahami tugas dan fungsinya, Eko Setiawan harus mundur secepatnya agar pemilihan Ketua Asprov PSSI DKI Jakarta bisa dilakukan. Bukan sebaliknya malah mempertahankan kepemimpinannya yang sudah gagal meloloskan Tim Sepakbola DKI Jakarta ke PON Sumut-Aceh 2024," tegas Rio.

Tidak hanya itu saja, Rio juga mempertanyakan kredibilitas Ketua Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta, Andri Yansah yang hanya sebatas datang mendampingi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat pembukaan Liga Jakarta U 17 Piala Gubernur 2025 di PSF Pancoran, 5 Juli lalu. Kenyataannya, kata dia, Andri Yansah tidak mendorong Tim Sepakbola Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar (PPOP) DKI Jakarta ikut Liga Jakarta U 17.

"Pemain PPOP itu harusnya dipilih lewat kompetisi bukan dari turnamen. Kok bisa Kadispora yang menjadi penanggung jawab pembinaan olahraga DKI Jakarta mengesampingkan Liga Jakarta U 17 dan terus mencoba mempertahankan pemain "mewah' PPOP yang dipilih lewat turnamen. Timnas yang baik di negara manapun pasti berasal dari kompetisi yang baik dan tidak ada turnamen. Apa ada 'sesuatu" dibalik semua ini sehingga dibiarkan terus berlangsung?," tanya Rio Ari Bowo, Anak Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Penulis: Azhari Nasution, Redpel Gonews.co Group dan Mantan Wakil Ketua SIWO Pusat. ***

wwwwww