Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
3
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
4 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Home  /  Berita  /  Gelanggang

Era Okto Masuk Olahraga, Kembalinya Tradisi Emas dan Muncul Angka Emas 32

Era Okto Masuk Olahraga, Kembalinya Tradisi Emas dan Muncul Angka Emas 32
Raja Sapta Oktohari. (Foto: NOC Indonesia/Naif Muhammad Al’as/Canon Indonesia)
Sabtu, 10 Agustus 2024 20:15 WIB
Penulis: Azhari Nasution
OLIMPIADE Paris 2024 bakal ditutup 12 Agustus 2024, Tim Indonesia yang dipimpin Chef de Mission (CdM) Anindya Bakrie membawa dua medali emas dan 1 perunggu sebagai Kado Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-79. Pasukan Garuda bukan hanya mempertahankan tradisi emas Olimpiade tetapi juga memunculkan Angka Emas 32.

Dengan kata lain, prestasi 32 tahun lalu terulang. Kali ini, pencatat sejarah itu bukan dari cabor bulutangkis. Atlet panjat tebing Veddriq Leonardo dan lifter Rizki Juniansyah dari cabang olahraga angkat besi bukan haya menjadi penyelamat Tim Indonesia tetapi mereka mengembalikan era emas yang diukir pebulutangkis Susy Susanti dan Alan Budikusuma di Olimpiade Barcelona 1992.

Kemunculan Angka Emas 32 ini bukan terjadi pertama kali saat Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia) dipimpin Raja Sapta Oktohari yang menggantikan posisi Erick Thohir pada Kongres KOI untuk periode 2019-2023 dan 2023-2027.

Angka Emas 32 yang menimbulkan euforia masyarakat itu muncul pertama kali pada akhir periode pertama kepemimpinan Okto, pangilan karibnya. Saat itu, Timnas Sepakbola U 22 Indonesia membuat kejutan dengan meraih medali emas setelah mengalahkan Thailand 5-2 dalam laga final di SEA Games Kamboja 2023.

Hasil yang diraih Pasukan Merah Putih yang diarsiteki Indra Sjafri itu mengulang prestasi 32 tahun lalu saat Timnas Indonesia meraih gelar juara di SEA Games Manila 1991.

Boleh dibilang Okto yang dekat dengan atlet ini bertangan dingin saat terlibat di dunia olahraga Indonesia. Ketika Okto menjadi CdM di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Tim Indonesia berhasil menyambung kembali tradisi emas Indonesia dari cabor bulutangkis yang terputus di Olimpiade London 2012.

Tim Indonesia meraih satu medali emas melalui pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir dan dua perak yang dihasilkan lifter putri Sri Wahyuni Agustiani dari Eko Yuli Irawan dari angkat cabor angkat besi.

WartaPKU.com Rizki Juniansyah. (Foto: NOC I
Rizki Juniansyah. (Foto: NOC Indonesia/Naif Muhammad Al’as/Canon Indonesia)

Bukan hanya CdM Anindya Bakrie yang sukses dengan tradisi emas dan mengulang sejarah 32 tahun lalu, tetapi CdM Tim Indonesia untuk Olimpiade Tokyo 2020 Rosan Perkasa Roeslani yang juga ditunjuk Okto juga mempertahankan tradisi medali emas.

Dari Negeri Sakura itu, Tim Indonesia membawa pulang 1 medali emas, 2 perak, dan 2 perunggu. Satu-satuya medali emas disumbangkan Ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu, perak dihasilkan Anthony Sinisuka Ginting dan lifter Eko Yuli Irawan sedangkan dua perunggu dihasilkan lifter Windy Cantika Aisah dan Rahmat Erwin Abdullah.

Saat menjadi Ketua NOC Indonesia, pria kelahiran Jakarta, 15 Oktober 1975 ini ditugaskan Presiden Jokowi untuk melepaskan sanksi Badan Anti Doping Dunia (WADA) terhadap Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) yang mengakibatkan Bendera Merah Putih tidak bisa dikibarkan saat Tim Bulutangkis Indonesia menjuarai All England 2021.

Dalam kurun waktu tidak lebih dari 3 bulan sejak sanksi 7 Oktober 2021 dijatuhkan, Okto yang memimpin Tim Gugus Tugas lewat diplomasi olahraga berhasil "Merajut Merah Merah Putih Yang Tergores" dengan dicabutnya sanksi tersebut pada 3 Februari 2022.

Tugas lain juga berhasil dituntaskannya saat menjadi Ketua Panitia Asian Para Games 2018 (INAPGOC). Penyelenggaraan Asian Para Games 2018 mendapat pujian dari peserta dan Indonesia yang menempati peringkat kelima dengan mengoleksi 37 medali emas, 47 perak, dan 51 perunggu.

WartaPKU.com Veddriq Leonardo. (Foto: NOC I
Veddriq Leonardo. (Foto: NOC Indonesia/Naif Muhammad Al’as/Canon Indonesia)

Saat memimpin Pengurus Besar Ikatan Sports Sepeda Indonesia (PB ISSI), Okto juga menghasilkan prestasi. Tim Balap Sepeda Indonesia membuat kejutan dengan menyumbangkan 2 medali emas melalui Tiara Andini Prastika dan Khoiful Mukhib pada Asian Games Jakarta 2018. Bahkan, prestasi balap sepeda mengalami peningkatan saat PP PBSI dipimpin Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dimana empat medali emas direbut pada Asian Games Hangzou 2022.

Tidak hanya balap sepeda, Tim Indonesia dengan CdM Basuki Hadimuljono yang juga Ketua Umum PB PODSI membuat kejutan. Pasukan Merah Putih meraih 36 medali dengan rincian 7 emas, 11 Perak, dan 18 Perunggu.

Bagi Indonesia, capaian ini memang bukanlah yang terbaik selama keikutsertaan di Asian Games. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa raihan medali ini menjadi yang terbaik sejak 45 tahun yang lalu di luar status Indonesia sebagai tuan rumah.

Pada 45 tahun lalu, di Bangkok tepatnya Asian Games 1978, Indonesia meraih delapan emas. Catatan itu menjadi rekor tersendiri bagi Indonesia saat melakoni Asian Games di luar negeri.

Penulis: Azhari Nasution, Wartawan Senior dan Mantan Wakil Ketua SIWO Pusat. ***

wwwwww