Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru, Agung Nugroho Incar Peluang Ekonomi Lewat Tuan Rumah Balapan
Gelanggang
13 jam yang lalu
Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru, Agung Nugroho Incar Peluang Ekonomi Lewat Tuan Rumah Balapan
2
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
Balai Kota
12 jam yang lalu
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
3
Pemkot Pekanbaru Catat Inflasi Terendah se-Riau, Harga Cabai Merah Jadi Sorotan Utama
Kabar Bertuah
15 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Catat Inflasi Terendah se-Riau, Harga Cabai Merah Jadi Sorotan Utama
4
Pemkot Pekanbaru Gesa Pemasangan PJU Simpang MTQ, APILL Cerdas Mulai Berfungsi
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Gesa Pemasangan PJU Simpang MTQ, APILL Cerdas Mulai Berfungsi
5
Pemkot Pekanbaru Lanjutkan Program Seragam Sekolah Gratis 2027, Anggaran Capai Rp13 Miliar
Balai Kota
16 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Lanjutkan Program Seragam Sekolah Gratis 2027, Anggaran Capai Rp13 Miliar
6
Pemkot Pekanbaru Latih Nakes Puskesmas Jadi Pendamping Posyandu, Dukung Penerapan Standar Pelayanan Minimal
Balai Kota
18 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Latih Nakes Puskesmas Jadi Pendamping Posyandu, Dukung Penerapan Standar Pelayanan Minimal
Home  /  Berita  /  Pasar & Niaga

Masyarakat Indonesia Sudah Terbiasa dengan Konsep Redenominasi Rp 1.000 Jadi Rp 1, Ini Faktanya

Masyarakat Indonesia Sudah Terbiasa dengan Konsep Redenominasi Rp 1.000 Jadi Rp 1, Ini Faktanya
Kamis, 29 Juni 2023 23:58 WIB
JAKARTA – Di tengah perdebatan panas tentang redenominasi Rupiah dari Rp 1.000 menjadi Rp 1, tampaknya masyarakat Indonesia sudah jauh hari menerapkan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Meski belum ada regulasi resmi dari Bank Indonesia, namun bukti nyata dari penerapan redenominasi sudah bisa kita temui dalam transaksi sehari-hari.

Salah satu bukti yang bisa kita lihat adalah penandaan harga dengan embel-embel "K" dalam berbagai tempat, mulai dari pusat perbelanjaan, restoran, café, hingga bioskop. Harga yang seharusnya Rp30.000, misalnya, seringkali ditulis sebagai 30K. Ini membuktikan bahwa masyarakat sudah terbiasa dengan pemahaman bahwa "K" dalam konteks ini merupakan kelipatan seribu.

Praktik ini bahkan tidak hanya terbatas pada area komersial modern. Di pasar-pasar tradisional, kita juga bisa melihat bagaimana transaksi antara pedagang dan pembeli juga sudah mulai disederhanakan. Sebagai contoh, pedagang buah yang menawarkan jeruk dengan harga Rp30.000 per kilogram, dan pembeli menawarnya dengan hanya menyebut 20, yang berarti mereka menawar seharga Rp20.000 per kilogram.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, sebelumnya sudah menjelaskan bahwa redenominasi rupiah ini sebenarnya sudah lama disiapkan. "Masalah desain dan tahapan-tahapannya, itu sudah kami siapkan dari dulu secara operasional dan bagaimana tahapan-tahapannya," ungkap Perry.

Meski demikian, terdapat tiga pertimbangan penting sebelum redenominasi ini dapat diterapkan, yaitu stabilitas makro ekonomi, kondisi sosial, dan kondisi politik. "Memang ekonomi Indonesia saat ini tengah bagus. Hanya saja redenominasi ini masih harus menunggu momen yang lebih tepat," tegas Perry.

Meski belum ada regulasi resmi, tampaknya masyarakat Indonesia sudah cukup terbiasa dengan konsep redenominasi. Ini adalah sinyal positif bahwa masyarakat sudah siap jika suatu saat nanti redenominasi rupiah ini benar-benar diimplementasikan oleh Bank Indonesia. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:liputan6.com
Kategori:Pasar & Niaga
wwwwww