Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Susuri Gang Samping BRI Sukaramai Pekanbaru, Polisi Amankan Pria dan Wanita Positif Narkoba
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Susuri Gang Samping BRI Sukaramai Pekanbaru, Polisi Amankan Pria dan Wanita Positif Narkoba
2
Sisir Empat Kelab Malam Pekanbaru, Satpol PP Riau Periksa Ketat Izin Usaha dan Pengunjung
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Sisir Empat Kelab Malam Pekanbaru, Satpol PP Riau Periksa Ketat Izin Usaha dan Pengunjung
Home  /  Berita  /  Parlemen

Mantan Napi Korupsi Kembali Aktif di Parpol, Ujang Komarudin: Itulah Politik Indonesia

Mantan Napi Korupsi Kembali Aktif di Parpol, Ujang Komarudin: Itulah Politik Indonesia
Mantan narapidana kasus korupsi Romahurmuziy. (Foto: Istimewa)
Selasa, 03 Januari 2023 22:23 WIB

JAKARTA - Aktifnya kembali mantan narapidana kasus korupsi Romahurmuziy sebagai elite Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menuai beragam reaksi publik.

Kendati hak berpolitik Romahurmuziy tidak dicabut oleh pemerintah, namun catatan kelam tersebut akan melekat selamanya di tubuh pria yang akrab disapa Romy itu dan PPP sebagai partai yang menampungnya.

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin berpendapat, dipilihnya kembali Romy menjadi Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) PPP telah mencoreng nama baik politik di tanah air.

"Sejatinya mencoreng nama PPP, tapi itulah politik di Indonesia. Saya melihatnya politik yang tidak membudayakan nilai-nilai kewarasan,” kata Ujang, Selasa (3/1/2022).

"Di kita ini banyak juga mantan napi terpilih lagi, dapat posisi lagi, di situlah letak kenapa bangsa kita menjadi bangsa terkorup. Karena salah satunya seperti itu,” kata Ujang lagi.

Seharusnya, kata Ujang, Romy menahan diri ketika ditawari jabatan strategis tersebut di PPP. Hal ini untuk membentuk citra positif bagi dunia politik di Indonesia yang dinilai kurang bersih oleh masyarakat.

"Mestinya, tahan-tahan dulu jangan masuk ke PPP dulu. Sulit Indonesia bakal maju dan berkembang kalau elitnya menerima tokoh-tokoh atau figur yang pernah tersandung kasus korupsi, seolah-olah tidak salah dan tidak dosa setelah korupsi, kembali bahkan menjdi Ketua Dewan Pertimbangan. Itulah politik kita yang tidak menanamkan etika politik dsb,” tutupnya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Warga Bertuah, Balai Kota, Parlemen
wwwwww