Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru, Agung Nugroho Incar Peluang Ekonomi Lewat Tuan Rumah Balapan
Gelanggang
11 jam yang lalu
Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru, Agung Nugroho Incar Peluang Ekonomi Lewat Tuan Rumah Balapan
2
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
Balai Kota
11 jam yang lalu
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
3
Pemkot Pekanbaru Catat Inflasi Terendah se-Riau, Harga Cabai Merah Jadi Sorotan Utama
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Catat Inflasi Terendah se-Riau, Harga Cabai Merah Jadi Sorotan Utama
4
Pemkot Pekanbaru Gesa Pemasangan PJU Simpang MTQ, APILL Cerdas Mulai Berfungsi
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Gesa Pemasangan PJU Simpang MTQ, APILL Cerdas Mulai Berfungsi
5
Pemkot Pekanbaru Lanjutkan Program Seragam Sekolah Gratis 2027, Anggaran Capai Rp13 Miliar
Balai Kota
14 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Lanjutkan Program Seragam Sekolah Gratis 2027, Anggaran Capai Rp13 Miliar
6
Pemkot Pekanbaru Latih Nakes Puskesmas Jadi Pendamping Posyandu, Dukung Penerapan Standar Pelayanan Minimal
Balai Kota
16 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Latih Nakes Puskesmas Jadi Pendamping Posyandu, Dukung Penerapan Standar Pelayanan Minimal
Home  /  Berita  /  GoNews Group
Dialektika Demokrasi

Membaca 'Ancaman Resesi Ekonomi dan Solusinya'

Membaca Ancaman Resesi Ekonomi dan Solusinya
Anggota komisi XI fraksi partai Golkar DPR RI, Muhammad Misbakhun (kemeja putih) dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk 'Ancaman Resesi Ekonomi dan Solusinya' di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (6/8/2020). (Foto: Zul/Gonews.co)
Kamis, 06 Agustus 2020 16:07 WIB
JAKARTA - Indonesia telah memasuki resesi teknikal, yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) ada faktor sangat mendasar yang perlu dilakukan upaya lebih serius oleh pemerintah yaitu terkait turunnya konsumsi rumah tangga.

Hal itu disampaikan, Anggota komisi XI fraksi partai Golkar DPR RI, Muhammad Misbakhun dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk 'Ancaman Resesi Ekonomi dan Solusinya' di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (6/8/2020).

"Konsumsi rumah tangga itu mengalami konstraksi 5,51%, padahal kontribusinya pada PDB sangat besar (yakni 57%, red)" kata Misbakhun.

Di fase kesulitan krisis seperti saat ini-di mana sektor-sektor ekonomi mengalami kontraksi dan penuruan, kata Misbakhun, konsumsi ini sebenarnya yang menolong Indonesia untuk tidak jatuh terlalu dalam. Pemerintah harus menyelamatkan kelompok kelas menengah rentan, baik itu dari sisi usaha maupun secara individual.

Karenanya, kata Misbakhun sejak lama dirinya mengusulkan agar pemerintah berani menanggung beban-beban ekonomi masyarakat termasuk hutangnya (baik individual maupun sisi usaha), agar uang cicilan masyarakat bisa dipakai untuk membangun agregat demand baru yang selama ini tergerus.

Persoalan dari mana sumber uangnya, Misbakhun berpendapat, pemerintah bisa menerbitkan surat utang yang kemudian dibeli oleh BI.

Dalam kesempatan tersebut, Misbakhun yang juga menekankan perlunya kualitas dari predikat-predikat hebat yang ada. Dirinya mengakui, "saya bukan anggota DPR terbaik sedunia sehingga belum kelas untuk mengkritik menteri terbaik sedunia (Menkeu Sri Mulyani, red)".

Pandangan senada disampaikan juga oleh Anggota Komisi XI fraksi partai PKS DPR RI, Ecki Awal Muharram. Pemerintah dinilai perlu membalik sudut pandang dari memprioritaskan penyelamatan lokomotif ekonomi (usaha skala besar, red) ke penyelamatan sektor bawah yakni UMKM dan sektor informal.

"Ini ada kekosongan karena pemerinah fokus ke yang lokomotif tadi. Coba dibalik!" kata Ecki yang hadir secara virtual.

Perspektif serupa juga disampaikan Direktur Risert CORE Pieter Abdullah. Ia mengutip data perbankan di OJK yang menyebut bahwa tabungan yang bernilai Rp 100 juta ke bawah terus mengalami penurunan saldo, sementara tabungan yang bernilai di atas itu terus mengalami peningkatan saldo.

Resesi, menurut Pieter, bukanlah kesalahan siapapun bahkan pemerintah sendiri, karena resesi adalah konsekuensi dari pandemi. Yang penting adalah, kebijakan yang tepat dalam menghadapi resesi.

Menilik kebijakan bantuan sosial untuk masyarakat yang nominalnya mungkin tak cukup dan penyalurannya mungkin tak cepat, serta pinjaman/kredit untuk sektor UMKM, menurut Pieter hal ini tidak tepat untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan ketahanan dunia usaha.

Pieter mengatakan, yang dibutuhkan sektor menegah-bawah sekarang adalah peran pemerintah untuk mengurangi beban-beban ekonomi dalam hal ini arus kas mereka, dan bukan dengan memberi beban baru melalui pinjaman.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Pasar & Niaga, Parlemen, Kampus, GoNews Group
wwwwww