Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
Nasional
7 jam yang lalu
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
2
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
Nasional
6 jam yang lalu
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
3
Pemkot Pekanbaru Usulkan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Angin Segar Kesejahteraan Pegawai
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Usulkan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Angin Segar Kesejahteraan Pegawai
4
Suket Ijazah Gibran Batal demi Hukum, Mahfud MD Dorong DPR Lakukan Langkah Politik
Nasional
6 jam yang lalu
Suket Ijazah Gibran Batal demi Hukum, Mahfud MD Dorong DPR Lakukan Langkah Politik
5
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
Hukum
8 jam yang lalu
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
6
Foto Gibran Dicopot Massa di DPRD DIY, Politikus PDIP Ungkap Manipulasi Konstitusi
Nasional
8 jam yang lalu
Foto Gibran Dicopot Massa di DPRD DIY, Politikus PDIP Ungkap Manipulasi Konstitusi
Home  /  Berita  /  Parlemen

Usulan Salat Jumat Diatur Berdasarkan Nomor Ponsel, Jazilul Fawaid: Jangan Persulit Umat Beribadah

Usulan Salat Jumat Diatur Berdasarkan Nomor Ponsel, Jazilul Fawaid: Jangan Persulit Umat Beribadah
Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid. (dok. Humas MPR)
Kamis, 18 Juni 2020 20:10 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Usulan menerapkan Salat Jumat dengan sistem bergilir, dua gelombang, atau dengan sistem ganjil genap dari nomer ponsel jamaah, ditolak oleh Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid.

"Saya tidak setuju usulan itu," ujarnya, Kamis (18/06/2020) di Jakarta.

Menurut politisi PKB itu, ibadah Salat Jumat harus dalam keadaan khusyu' dan menyenangkan, sehingga ibadah wajib bagi umat Islam itu tidak dipersulit. Istilah salat Jumat bergilir, ganjil genap, dua gelombang, atau Jum'atan New Normal menurutnya tidak ada.

Menurut pria yang menjadi Koordinator Nasional Nusantara Mengaji itu, menjalankan Salat Jumat, harus yakin dan mantap. "Kalau sudah merasa yakin aman, ya sudah dibuka saja. Jangan setengah-tengah," tambahnya.

Usulan salat jumat dengan sistem ganjil genap, menurut pria asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, justeru akan mempersulit umat Islam yang hendak melaksanakan ibadah. "Setahu saya agama itu mudah, 'addinu yusrun'," paparnya.

Dirinya setuju dengan protokol kesehatan dalam pelaksanaan Salat Jumat, namun mengacu pada protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. Ia tidak sepakat dengan protokol kesehatan yang diusulkan oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI).

Sebelumnya, DMI mengeluarkan SE Nomor 105-Khusus/PP-DMI/A/VI/2020 tertanggal Selasa 16 Juni 2020. Dalam surat edaran itu berisi tata cara salat Jumat yang dibuat dua gelombang dengan aturan ganjil-genap yang didasarkan pada nomor handphone jamaah.

Dalam surat edaran yang ditandatangani oleh Ketua Umum DMI Jusuf Kalla dan Sekjen DMI Imam Addaraqutni itu merincikan, apabila hari Jumat bertepatan dengan tanggal ganjil maka jamaah yang memiliki nomor handphone berakhiran ganjil melaksanakan Sholat Jumat gelombang pertama.

Sedangkan jamaah yang memiliki nomer handphone genap, mendapat kesempatan Salat Jumat gelombang kedua. Begitu sebaliknya.***

wwwwww