Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Rilis Tangkapan Jaringan Narkotika, Polresta Pekanbaru Sita Puluhan Gram Sabu dan Ekstasi
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Rilis Tangkapan Jaringan Narkotika, Polresta Pekanbaru Sita Puluhan Gram Sabu dan Ekstasi
2
Polresta Pekanbaru Bongkar Budidaya 53 Pot Ganja di Sail, Pengedar Terjebak Undercover Buy
Sail
23 jam yang lalu
Polresta Pekanbaru Bongkar Budidaya 53 Pot Ganja di Sail, Pengedar Terjebak Undercover Buy
3
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
Nasional
2 jam yang lalu
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
4
Foto Gibran Dicopot Massa di DPRD DIY, Politikus PDIP Ungkap Manipulasi Konstitusi
Nasional
3 jam yang lalu
Foto Gibran Dicopot Massa di DPRD DIY, Politikus PDIP Ungkap Manipulasi Konstitusi
5
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
Hukum
3 jam yang lalu
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
6
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
Nasional
54 menit yang lalu
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
Home  /  Berita  /  GoNews Group

HNW Sebut Orang Beragama itu Mencerahkan

HNW Sebut Orang Beragama itu Mencerahkan
Sabtu, 13 April 2019 15:32 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Saat memberi ceramah dalam acara pengajian bulanan yang diselenggarakan di Aula KH. Ahmad Dahlan, Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, 12 April 2019, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) menuturkan ketika menggunakan terminologi agama maka orientasinya adalah mencerahkan.

Pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu selanjutnya menerangkan kata agama dari bahasa Sansekerta. "Menurut bahasa Sansekerta A berarti tidak, Gama berarti kacau, sehingga agama berarti tidak kacau," ungkapnya.

Dari sinilah ia menyesalkan bila ada orang beragama namun sering mengkafir-kafirkan atau membidah-bidahkan orang atau kelompok yang lain.

Mereka menyebut demokrasi bidah, sekolah bidah. Sikap yang demikian menurut pria yang juga menjadi Wakil Ketua Badan Wakaf Pondok Pesantren Gontor itu membuat beragama menjadi menakutkan.

"Beragama itu membuat masyarakat menjadi madani bukan 'medeni' (menakutkan)," tuturnya.

Beragama yang mencerahkan menurut HNW sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dipaparkan, ulama pendahulu adalah sosok beragama yang mencerahkan untuk kehidupan bangsa dan negara.

Disampaikannya kepada jamaah pengajian yang hadir malam itu, bagaimana sosok Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, KH. Hasyim Ashari, Mohammad Natsir, dan ulama lainnya. Dengan keberagamaannya mereka mencerahkan dan menyelamatkan Indonesia.

Diceritakan bagaimana anggota Panitia 9 yang berasal dari Muhammadiyah saat merumuskan Panacasila. Sosok seperti Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Kahar Muzakir rela tujuh kata dalam Pancasila 22 Juni 1945 dihilangkan.

Langkah ketiga tokoh Muhammadiyah itu membuat Pancasila tetap terjaga dan bangsa Indonesia tetap bersatu. "Mereka mendahulukan kepentingan bangsa," tuturnya.

Pun demikian ketika Belanda ingin menjajah kembali Indonesia lewat Surabaya. Ulama Jawa Timur di bawah pimpinan KH. Hasyim Ashari mengeluarkan 'Fatwa Jihad'.

Dari fatwa tersebut menyemangati ummat Islam, santri, dan masyarakat untuk berjuang mempertahankan Indonesia dari upaya penjajahan kembali Belanda. "Dari fatwa itu melahirkan semangat kepahlawanan 10 November," ucapnya.

Dari sinilah HNW mengajak kepada semua untuk tidak melupakan jasa para ulama.

"Jika ada 'Jas Merah', jangan sekali-kali melupakan sejarah; maka kita perlu juga 'Jas Hijau', jangan sekali-kali menghilangkan jasa ulama," tuturnya.

Peristiwa seperti itulah yang menurutnya perlu disegarkan kembali. "Peran ulama mencerahkan sehingga menyelamatkan Indonesia," paparnya.***

wwwwww