Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
Nasional
23 jam yang lalu
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
2
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
Nasional
22 jam yang lalu
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
3
Pemkot Pekanbaru Usulkan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Angin Segar Kesejahteraan Pegawai
Kabar Bertuah
21 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Usulkan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Angin Segar Kesejahteraan Pegawai
4
Suket Ijazah Gibran Batal demi Hukum, Mahfud MD Dorong DPR Lakukan Langkah Politik
Nasional
22 jam yang lalu
Suket Ijazah Gibran Batal demi Hukum, Mahfud MD Dorong DPR Lakukan Langkah Politik
5
Ekonomi Melesat 7,39 Persen, Pemkot Pekanbaru Sabet Penghargaan CNN Indonesia Awards
Balai Kota
19 jam yang lalu
Ekonomi Melesat 7,39 Persen, Pemkot Pekanbaru Sabet Penghargaan CNN Indonesia Awards
6
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
Hukum
24 jam yang lalu
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
Home  /  Berita  /  GoNews Group
Diskusi Publik Forum Jurnalis Muslim

Mantan Narapidana Terorisme Sebut Indonesia Bukan Negara Perang

Mantan Narapidana Terorisme Sebut Indonesia Bukan Negara Perang
Minggu, 20 Mei 2018 20:26 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Mantan narapidana kasus terorisme mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia bukanlah wilayah perang. Sehingga saat ini umat Islam tidak perlu melakukan jihad perang.

"Indonesia adalah wilayah damai, bukan wilayah perang. Yang harus dilancarkan di Indonesia adalah dakwah, perang pemikiran. Bukan teror atau perang fisik," ungkap Haris saat menjadi narasumber diskusi The Newsmaker Forum bertajuk "Mengurai Benang Kusut Terorisme" yang diselenggarakan di kawasan Juanda, Jakarta Pusat, Sabtu (19/5/2018).

Dijelaskan Haris, pelaku-pelaku teror mengatasnamakan Islam adalah mereka yang memiliki sikap ekstrem berlebih-lebihan atau ghuluw dalam beragama.

"Jadi tidak tepat kalau ini dikatakan radikal. Radikal itu maknanya baik. Mereka itu terjangkit pemahaman Khawarij, lebih tepatnya ekstrem, ghuluw fiddin berlebih-lebihan di dalam memahami agama. Begitu sangat kerasnya memegang prinsip, sehingga orang-orang muslim di luar mereka tidak dianggap keislamannya," ungkap Haris.

Haris menerangkan, sikap ghuluw ini kemudian semakin berkembang setelah deklarasi ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) di Suriah.***

wwwwww