Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pendiri Pekanbaru Marhum Pekan Resmi Terima Gelar Pahlawan Nasional
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Pendiri Pekanbaru Marhum Pekan Resmi Terima Gelar Pahlawan Nasional
2
Sasar Sarang Narkoba, Tim Gabungan Polresta Pekanbaru Jaring Empat Pengunjung Kelab Malam
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Sasar Sarang Narkoba, Tim Gabungan Polresta Pekanbaru Jaring Empat Pengunjung Kelab Malam
3
Tumpukan Sampah Jadi Biang Kerok Meluapnya Drainase di Ruas Jalan Pekanbaru
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Tumpukan Sampah Jadi Biang Kerok Meluapnya Drainase di Ruas Jalan Pekanbaru
4
Putusan MA Anulir Suket Gibran Rakabuming, Publik Soroti Ancaman Pemakzulan Wapres
Nasional
3 jam yang lalu
Putusan MA Anulir Suket Gibran Rakabuming, Publik Soroti Ancaman Pemakzulan Wapres
Home  /  Berita  /  GoNews Group

AM Fatwa: 72 Tahun Kemerdekaan, Tonggak Sejarah Rekonsiliatif

AM Fatwa: 72 Tahun Kemerdekaan, Tonggak Sejarah Rekonsiliatif
Istimewa.
Sabtu, 19 Agustus 2017 18:22 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Usia 72 thn kemerdekaan ini harus menjadi tonggak sejarah rekonsiliatif. Pertemuan Presiden dgn para mantan Presiden di Istana Negara merupakan peristiwa yang menggembirakan.

Pertemuan tersebut menurut Senator DKI, AM Fatwa, mencairkan hubungan yang selama ini terlihat kaku, dingin dan membeku. "Harapan kita membawa pengaruh positif ke seluruh tataran masyarakat khususnya para pemimpin dari Pusat hingga Daerah," ujarnya, Sabtu (19/8/2017).

Di sisi lain, Pemerintah perlu merajut hubungan yang simbiosis mutualistis dengan umat Islam secara umum, bukan hanya di tingkat elit dengan para ulama tertentu ataupun dengan tokoh Islam. "Pemerintah perlu mengubah pendekatan politik represif terhadap umat Islam dengan pendekatan yang lebih adaptif - akomodatif," tandasnya.

Perubahan pendekatan tersebut kata dia, bisa dimulai dari menghentikan semua kasus (case closed) yang diduga merupakan kriminalisasi kepada ulama.

"Pada titik ini, diharapkan akan meminimalisasi ketegangan vertikal antara umat Islam dengan Pemerintah dan ketegangan horisontal antara anak bangsa. Terlebih dalam menyambut pesta demokrasi 2019. Mari kita sambut dengan politik kebersamaan semua pihak dan jangan ada politik "belah bambu," pungkasnya. ***

wwwwww