Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Putusan MA Anulir Suket Gibran Rakabuming, Publik Soroti Ancaman Pemakzulan Wapres
Nasional
16 jam yang lalu
Putusan MA Anulir Suket Gibran Rakabuming, Publik Soroti Ancaman Pemakzulan Wapres
2
Drama Epic Comeback, Tandukan Pramudya dan Penalti Gamaroni Bawa PSPS Pekanbaru Tekuk PSGC 2-1
Sepakbola
9 jam yang lalu
Drama Epic Comeback, Tandukan Pramudya dan Penalti Gamaroni Bawa PSPS Pekanbaru Tekuk PSGC 2-1
3
Sasar Sarang Narkoba, Tim Gabungan Polresta Pekanbaru Jaring Empat Pengunjung Kelab Malam
Kabar Bertuah
19 jam yang lalu
Sasar Sarang Narkoba, Tim Gabungan Polresta Pekanbaru Jaring Empat Pengunjung Kelab Malam
4
Tumpukan Sampah Jadi Biang Kerok Meluapnya Drainase di Ruas Jalan Pekanbaru
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Tumpukan Sampah Jadi Biang Kerok Meluapnya Drainase di Ruas Jalan Pekanbaru
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Wakil Rakyat di Senayan Gagal Perjuangkan Listrik Rakyat

Wakil Rakyat di Senayan Gagal Perjuangkan Listrik Rakyat
Ilustrasi.
Jum'at, 30 Juni 2017 17:26 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - DPR RI sebagai wakil rakyat dinilai gagal dalam memperjuangkan kepentingan rakyat karena menyetujui pencabutan subsidi berdaya 900 VA.

Pengamat kebijakan publik Syafril Sjofyan menilai bahwa DPR sebagai wakil rakyat menjaga amanat rakyat karena dengan mudah menyetujui pencabutan subsidi listrik, tanpa melakukan pengawasan dan audit PLN forensik terlebih dahulu.

"Kegagalan fraksi di DPR RI ini juga merupakan kegagalan partai-partai," jelasnya seperti keterangan tertulis yang diterima redaksi, Jumat (30/6/2017).

Syafril menjelaskan bahwa definisi pembangunan listrik seharusnya merupakan infrastruktur yang merupakan tanggung jawab pemerintah. Artinya subsidi wajib dilakukan pemerintah sesuai UUD 45 yang asli.

"Jadi listrik bukan merupakan komiditi yang harus mencari keuntungan. Tercatat pada 2016 PLN untung bersih Rp 10,5 triliun, sementara pemerintah mendapatkan pajak Rp 5 triliun," jelasnya.

Lebih lanjut, Syafril juga membandingkan harga listrik Indonesia dengan negara-negara di Asean. Fakta menyebutkan bahwa listrik di Indonesia yang paling mahal. "Padahal pendapatan perkapita rakyat Indonesia 1 banding 5 dari pendapatan rakyat Malaysia," urainya.

Atas dasar itu, Syafril mempertanyakan kembali arti keberadaan DPR sebagai wakil rakyat. Pasalnya, DPR nyata-nyata lebih mementingkan kepentingan partai.

"Ada pemikiran jika DPR RI sebaiknya dibubarkan jika tidak lagi menyuarakan kepentingan rakyat, terutama rakyat miskin," pungkas aktivis '77-78 itu.***

Sumber:m.rmol.co
Kategori:GoNews Group, Kabar Bertuah, Balai Kota, Parlemen
wwwwww