Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru, Agung Nugroho Incar Peluang Ekonomi Lewat Tuan Rumah Balapan
Gelanggang
16 jam yang lalu
Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru, Agung Nugroho Incar Peluang Ekonomi Lewat Tuan Rumah Balapan
2
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
Balai Kota
15 jam yang lalu
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
3
Pemkot Pekanbaru Catat Inflasi Terendah se-Riau, Harga Cabai Merah Jadi Sorotan Utama
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Catat Inflasi Terendah se-Riau, Harga Cabai Merah Jadi Sorotan Utama
4
Pemkot Pekanbaru Gesa Pemasangan PJU Simpang MTQ, APILL Cerdas Mulai Berfungsi
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Gesa Pemasangan PJU Simpang MTQ, APILL Cerdas Mulai Berfungsi
5
Pemkot Pekanbaru Lanjutkan Program Seragam Sekolah Gratis 2027, Anggaran Capai Rp13 Miliar
Balai Kota
19 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Lanjutkan Program Seragam Sekolah Gratis 2027, Anggaran Capai Rp13 Miliar
6
Pemkot Pekanbaru Latih Nakes Puskesmas Jadi Pendamping Posyandu, Dukung Penerapan Standar Pelayanan Minimal
Balai Kota
21 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Latih Nakes Puskesmas Jadi Pendamping Posyandu, Dukung Penerapan Standar Pelayanan Minimal
Home  /  Berita  /  Warga Bertuah

Waspada, Sudah 2 Warga Dumai Kedapatan Bergabung dengan Kelompok Teroris Santoso, Begini Modus Perekrutannya

Waspada, Sudah 2 Warga Dumai Kedapatan Bergabung dengan Kelompok Teroris Santoso, Begini Modus Perekrutannya
Kelompok teroris Santoso (Foto: Internet)
Senin, 02 Mei 2016 16:34 WIB
Penulis: Chairul Hadi
PEKANBARU - Direktur Intelkam Polda Riau, Kombes Djati Wiyoto, Senin (2/5/2016) sore menyatakan, hingga saat ini pihaknya mendapat laporan bahwa sudah ada dua warga Dumai, Riau yang kedapatan bergabung dengan kelompok radikal Santoso, di Poso, Sulawesi Tengah.

Setelah Ofan yang ditangkap Kamis kemarin, muncul lagi satu nama warga Dumai yang bergabung dengan Kelompok Santoso. Dia adalah Dede. "Kemarin ditangkap di Poso. Saat itu dia (Dede) diduga sedang menunggu orang yang menyuruhnya datang ke Poso," beber Djati kepada GoRiau.com.

Menurut dia, Ofan dan Dede sudah saling kenal cukup lama. Keduanya juga sama-sama berdomisili di Dumai. Adapun Dede yang ditangkap belakangan, diduga diajak oleh Ofan untuk bergabung dengan Kelompok Santoso. "Mereka bukan warga asli Dumai, hanya pendatang, kita masih dalami dugaan orang lainnya yang turut bergabung," jawab dia.

Sebelum tertangkap, Minggu (1/5/2016) di Poso, Dede sempat dilaporkan hilang oleh keluarganya dua minggu lalu. "Istrinya yang melapor ke Mapolsek. Kita sudah tanya-tanya, pengakuan sang istri, belakangan ini tingkah suaminya memang berubah termasuk pola hidupnya," sebut Kombes Djati menguraikan.

Hasil penyelidikan sementara ini, cara perekrutan cenderung menggunakan media sosial dan internet. Hal itu cukup sulit dideteksi aparat penegak hukum. "Ada pola rekrutmen via medos dan sudah terorganisir. Kita sudah lacak situsnya dan dilakukan pemblokiran. Jadi komunikasi mereka via dunia maya," sebutnya.

Setelah target berhasil digaet, si perekrut kemudian menggiring ke Poso. Sejauh itu komunikasi mereka dilakukan via telpon. "Seperti Dede, itu ditangkap saat sendirian. Dia bingung di sana, tidak tahu jalan. Jadi pengakuannya dia disuruh datang dan menunggu. Ada dikirim uang juga dua kali, pertama Rp1 juta, lalu Rp500 ribu," jawab Dir Intel. ***

wwwwww