Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
Nasional
22 jam yang lalu
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
2
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
Nasional
21 jam yang lalu
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
3
Pemkot Pekanbaru Usulkan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Angin Segar Kesejahteraan Pegawai
Kabar Bertuah
20 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Usulkan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Angin Segar Kesejahteraan Pegawai
4
Suket Ijazah Gibran Batal demi Hukum, Mahfud MD Dorong DPR Lakukan Langkah Politik
Nasional
21 jam yang lalu
Suket Ijazah Gibran Batal demi Hukum, Mahfud MD Dorong DPR Lakukan Langkah Politik
5
Ekonomi Melesat 7,39 Persen, Pemkot Pekanbaru Sabet Penghargaan CNN Indonesia Awards
Balai Kota
18 jam yang lalu
Ekonomi Melesat 7,39 Persen, Pemkot Pekanbaru Sabet Penghargaan CNN Indonesia Awards
6
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
Hukum
23 jam yang lalu
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
Home  /  Berita  /  GoNews Group
Penyanderaan WNI di Filipina

MPR : Pemerintah Jangan Ladeni Tebusan, Indonesia Sudah Pengalaman Bebaskan Sandera

MPR : Pemerintah Jangan Ladeni Tebusan, Indonesia Sudah Pengalaman Bebaskan Sandera
Wakil Ketua MPR RI, Mahyudin. (Legislatif.co)
Senin, 04 April 2016 11:18 WIB
Penulis: Daniel Caramoy
JAKARTA- Wakil Ketua Majelis Permusyawarataan Rakyat (MPR) Mahyudin menyatakan, Indonesia pada dasarnya sudah berpengalaman dalam menghadapi ancaman penyanderaan.

"Soal penyanderaan pemerintah sudah pengalaman. Dulu pernah menangani diantaranya kasus Garuda. Tapi untuk di Filipina ini jarang karena di luar negeri," ungkapnya di Gedung DPR Jakarta, Senin (4/4/2016).

Untuk itu pemerintah diminta harus menjalani komunikasi dan koordinasi dengan pemerintahan Filipina. Diantaranya koordinasi militer.

"Pemrintah harus koordinasi dengan Filipina. Seperti koordinasi militer untuk pembebansam sandera," imbaunya.

Namun ia menegaskan, pemerintah jangan sekali-kali mau menuruti permintaan tebusan dari kelompok Abu Sayyaf. Pemerintah harus mempercayakan ini kepada koordinasi TNI.

"Pemrintah tidak usah ladeni permintaan tebusan. Percayakan ke TNI. TNI kita punya pengalaman untuk atasi ini," tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso membenarkan jika kapal Indonesia Brahma 12 dibajak kelompok Abu Sayyaf di perairan Filipina. Setidaknya ada 10 WNI ditawan kelompok tersebut.

Kelompok Abu Sayyaf belakangan meminta uang tebusan ke pemerintah Indonesia sebesar 50 juta peso atau setara Rp15 miliar untuk membebaskan sandera tersebut. ***

wwwwww