Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
Nasional
10 jam yang lalu
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
2
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
Nasional
9 jam yang lalu
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
3
Pemkot Pekanbaru Usulkan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Angin Segar Kesejahteraan Pegawai
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Usulkan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Angin Segar Kesejahteraan Pegawai
4
Suket Ijazah Gibran Batal demi Hukum, Mahfud MD Dorong DPR Lakukan Langkah Politik
Nasional
9 jam yang lalu
Suket Ijazah Gibran Batal demi Hukum, Mahfud MD Dorong DPR Lakukan Langkah Politik
5
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
Hukum
11 jam yang lalu
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
6
Foto Gibran Dicopot Massa di DPRD DIY, Politikus PDIP Ungkap Manipulasi Konstitusi
Nasional
11 jam yang lalu
Foto Gibran Dicopot Massa di DPRD DIY, Politikus PDIP Ungkap Manipulasi Konstitusi
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Kurtubi Minta Pembahasan Cost Recovery Jangan di Banggar Tetapi di Komsi VII, Kenapa?

Senin, 22 Februari 2016 23:07 WIB
Penulis: Syafri Ario
kurtubi-minta-pembahasan-cost-recovery-jangan-di-banggar-tetapi-di-komsi-vii-kenapaKurtubi
JAKARTA- Pakar perminyakan sekaligus anggota DPR RI, Komisi VII meminta kepada SKK Migas dan KKKS, untuk membahas cost recovery di Komisi VII, bukan di Badan Anggaran.

"Pembahasan cost recovery jangan di banggar, karena di banggar, selalu ada tawar menawar, kami minta di Komsi VII, karena kami yang tahu secara teknis," papar Kurtubi, kepada legislatif.co, Senin (22/2/2016).

Selain itu, kata Kurtubi, negara juga tidak punya kontrol untuk mengawasi cost recovery tersebut. "Kita hanya percaya kepada akuntan publik," ujarnya.

Kemudian, Kurtubi juga mengatakan banyak persoalan di industri migas diantaranya yang paling penting adalah, perizinan, fiskal, dan kepastian hukum.

"Seperti PPn penghantaran gas dan kepastian hukum kita prihatin dengan bio remediasi," kata Kurtubi.

Iya juga mengaku kaget dengan jumlah perizinan yang diurus perusahaan Total, sebanyak 341 perizinan dari 17 instansi, berbeda dengan laporan yang ia terima dari instansi lain sebelumnya.

"Ini luar biasa, tolong dirinci, kemudian siapa yang bapak hubungi untuk izin tersebut, apakah bapak bupati atau siapa," tegasnya ***

wwwwww