Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
Nasional
8 jam yang lalu
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
2
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
Nasional
6 jam yang lalu
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
3
Pemkot Pekanbaru Usulkan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Angin Segar Kesejahteraan Pegawai
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Usulkan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Angin Segar Kesejahteraan Pegawai
4
Suket Ijazah Gibran Batal demi Hukum, Mahfud MD Dorong DPR Lakukan Langkah Politik
Nasional
6 jam yang lalu
Suket Ijazah Gibran Batal demi Hukum, Mahfud MD Dorong DPR Lakukan Langkah Politik
5
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
Hukum
8 jam yang lalu
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
6
Foto Gibran Dicopot Massa di DPRD DIY, Politikus PDIP Ungkap Manipulasi Konstitusi
Nasional
8 jam yang lalu
Foto Gibran Dicopot Massa di DPRD DIY, Politikus PDIP Ungkap Manipulasi Konstitusi
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Gawat, Harga Minyak Turun, Lifting Turun, Cost Recovery Masih Besar

Senin, 22 Februari 2016 21:13 WIB
Penulis: Syafri Ario
gawat-harga-minyak-turun-lifting-turun-cost-recovery-masih-besarAmin Sunaryadi
JAKARTA- Sektor Industri Minyak Bumi di Indonesia saat ini benar-benar mengkhawatirkan, pasalnya, saat harga minyak terjun bebas, lifting produksi minyak dan penemuan cadangan juga menurun, namun, cost recoverynya tetap tinggi yang dana berasal dari APBN.

Kepala SKK Migas, Amin Sunaryadi, memaparkan tantangan industri hulu migas secara global terjadi penurunan eksplorasi dan produksi rata-rata 20 persen (2014-2015). Hampir seluruh major company, IOC dan NOC mengalami penurunan investasi.

Tak hanya itu, cadangan pun penurunan, karena penemuan cadangan yang tidak bisa cepat, ini mengakibatkan kapasitas produksi juga menurun.

"Dulu 10-30 minyaknya, sekarang airnya lebih banyak 90 persen, dan minyak yang dihasilkan juga minyak mahal, sekarang yang dominan gas, kalau dulu minyak," jelasnya, Senin (22/2/2016) saat RDP dengan Komisi VII.

Namun, disisi lain, sebesar $38 juta, jumlah ini akan tetap menjadi unrecove cost dan $2.029 milyar dolar ini belum direcoverikan karena dalam tahap pengembangan dan produksi belum keluar.

Total biaya yang dikeluarkan yang belum direcovery $ 8,71 milyar. Komposisi cost recovery di 2015 ini masih belum diaudit, terdapat produksi, explorasi dan development, administrasi, investmen credit, unrecover cost.

Paling besar biaya produksi, lalu eksplorasi, pengembangan, dan depresiasi atau pengeluaran di beberapa tahun sebelumnya.

"Jadi kondisinya saat ini cost recovery tidak turun, goverment tax turun signifikan, harga minyak turun," ujar Amin ***

wwwwww