Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
Nasional
21 jam yang lalu
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
2
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
Nasional
20 jam yang lalu
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
3
Pemkot Pekanbaru Usulkan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Angin Segar Kesejahteraan Pegawai
Kabar Bertuah
19 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Usulkan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Angin Segar Kesejahteraan Pegawai
4
Suket Ijazah Gibran Batal demi Hukum, Mahfud MD Dorong DPR Lakukan Langkah Politik
Nasional
20 jam yang lalu
Suket Ijazah Gibran Batal demi Hukum, Mahfud MD Dorong DPR Lakukan Langkah Politik
5
Ekonomi Melesat 7,39 Persen, Pemkot Pekanbaru Sabet Penghargaan CNN Indonesia Awards
Balai Kota
17 jam yang lalu
Ekonomi Melesat 7,39 Persen, Pemkot Pekanbaru Sabet Penghargaan CNN Indonesia Awards
6
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
Hukum
22 jam yang lalu
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Pembelajaran Tatap Muka Diperbolehkan mulai Januari, Hetifah: Tingkatkan Peran Komite Sekolah

Pembelajaran Tatap Muka Diperbolehkan mulai Januari, Hetifah: Tingkatkan Peran Komite Sekolah
Wakil ketua Komisi X DPR RI/politisi Golkar, Hetifah Sjaifudian dalam sebuah kesempatan. (foto: ist.)
Jum'at, 20 November 2020 23:11 WIB
JAKARTA - Pemerintah berencana membuka kembali sekolah pada Januari 2021. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan dalam konferensi pers Surat Keputusan Bersama 4 Menteri yang ditayangkan langsung melalui kanal Youtube Kemendikbud, Jumat (20/11/2020).

Keputusan tersebut diambil bersama oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, serta Kementerian Dalam Negeri.

Hadir dalam konferensi pers tersebut hadir Agus Sartono mewakili menko PMK, menteri pendidikan dan kebudayaan Nadiem Makarim, menteri Agama Fachrul Razi, menteri kesehatan Terawan Agus Putranto, menteri dalam negeri Tito Karnavian, serta kepala BPNB Doni Monardo.

Agus Sartono mengatakan, pemenuhan daftar periksa merupakan syarat mutlak pembukaan sekolah.

"Di dashboard daftar periksa, dari 532.000 satuan pendidikan, baru 42,48% yang mengisi, sedangkan 57,52% sisanya belum merespons. Para bupati, wali kota, dan gubernur agar mendorong satuan pendidikan di daerahnya untuk meng-update kesiapan pembelajaran tatap muka di sekolah masing-masing," jelasnya.

Nadiem Makarim menyatakan, mulai tahun Januari 2021, pemda diberikan kewenangan untuk melakukan pembukaan sekolah tanpa mengacu pada zona risiko.

"Daerah yang paling mengetahui kondisi dan keadaan masing-masing. Selain izin dari pemda, pembukaan sekolah juga harus dengan izin kepala sekolah dan orangtua melalui komite sekolah. Sekolah dibolehkan buka, tapi tidak diwajibkan," paparnya.

Nadiem menambahkan, kegiatan belajar mengajar di sekolah harus dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat.

"Antara lain kondisi kelas yang memungkinkan jaga jarak minimal 1,5 meter, dan pemberlakuan sistem shifting dengan maksimal peserta didik 50% dari kapasitas,” jelasnya.

Sehubungan dengan hal tersebut, wakil ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menyatakan, keputusan pembukaan sekolah merupakan sebuah keputusan yang dilematis namun tak terelakkan.

"Sudah hampir 8 bulan kita mengalami pandemi, dan selama waktu tersebut sebagian besar sekolah melakukan pembelajaran jarak jauh. Padahal, kemampuan setiap sekolah dalam melaksanakan PJJ sangat berbeda-beda. Akibatnya banyak anak yang kehilangan kesempatan untuk belajar secara efektif," ujarnya kepada wartawan, Jumat.

Hetifah yang merupakan wakil rakyat asal Kaltim ini menyatakan, permintaan untuk membuka sekolah sudah datang dari segala arah.

"Keluhan-keluhan sampai ke saya mulai dari pihak guru, orangtua, maupun peserta didik, berharap sekolah segera dibuka. Ini tidak bisa kita abaikan, banyak pihak yang sudah merasakan stres, terisolasi, bahkan angka KDRT meningkat. Saya rasa ini sebuah aspek yang tidak bisa kita sepelekan," paparnya.

Ia menambahkan, aspek kesehatan sudah dipikirkan matang-matang dalam membuat keputusan ini.

"Masyarakat sekarang sudah mulai terbiasa menjalankan protokol kesehatan. Tinggal bagaimana menerapkan hal itu dengan disiplin di dunia pendidikan. Koordinasi antara pusat dan daerah harus ditingkatkan, dan yang melanggar harus ada sanksi tegas," jelasnya.

Terakhir, Ia berharap orangtua dapat menjadi garda terdepan dalam mengawasi pelaksanaan protokol ini.

"Saya rasa semua orangtua ingin putra putrinya aman dan sehat. Mari sama-sama pantau keberjalanan kegiatan belajar di sekolah ini. Dari Kemendikbud dan Dinas-dinas Pendidikan saya harap bisa membangun strategi untuk meningkatkan keaktifan komite orang tua di setiap sekolah," pungkasnya.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Hukum, Kampus, GoNews Group
wwwwww