Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemkot Pekanbaru Usulkan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Angin Segar Kesejahteraan Pegawai
Kabar Bertuah
24 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Usulkan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Angin Segar Kesejahteraan Pegawai
2
Ekonomi Melesat 7,39 Persen, Pemkot Pekanbaru Sabet Penghargaan CNN Indonesia Awards
Balai Kota
21 jam yang lalu
Ekonomi Melesat 7,39 Persen, Pemkot Pekanbaru Sabet Penghargaan CNN Indonesia Awards
3
Susuri Gang Samping BRI Sukaramai Pekanbaru, Polisi Amankan Pria dan Wanita Positif Narkoba
Kabar Bertuah
3 jam yang lalu
Susuri Gang Samping BRI Sukaramai Pekanbaru, Polisi Amankan Pria dan Wanita Positif Narkoba
4
Sisir Empat Kelab Malam Pekanbaru, Satpol PP Riau Periksa Ketat Izin Usaha dan Pengunjung
Kabar Bertuah
3 jam yang lalu
Sisir Empat Kelab Malam Pekanbaru, Satpol PP Riau Periksa Ketat Izin Usaha dan Pengunjung
Home  /  Berita  /  Kesehatan

Menteri Bappenas Sebut Kematian Akibat TBC di Indonesia Lebih Banyak dari Covid-19, Capai 15 Orang/Jam

Menteri Bappenas Sebut Kematian Akibat TBC di Indonesia Lebih Banyak dari Covid-19, Capai 15 Orang/Jam
Menteri Bappenas Suharso Monoarfa. (tribunnews)
Senin, 22 Juni 2020 21:04 WIB
JAKARTA - Menteri Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa mengungkapkan, jumlah kematian akibat penyakit tuberkulosis (TBC) di Indonesia jauh lebih banyak dari pada akibat Covid-19.

Dikutip dari Liputan6.com, dikatakan Monoarfa, saat ini Indonesia menjadi negara nomor tiga terbanyak kasus penderita TBC. Tingkat kematian akibat TBC mencapai belasan orang dalam satu jam.

''TBC hampir 900 ribu pasien dan 14-15 orang wafat per jam. Jadi kalau gelisah ada Covid, kalau kematian TBC diumumkan, banyak orang Indonesia yang akan gelisah,'' ujarnya di Ruang Rapat Komisi XI DPR RI, Jakarta, Senin (22/6/2020).

Selain TBC, lanjut Monoarfa, fokus pemerintah adalah mengatasi malaria. Hingga saat ini sudah ada sebanyak 382 kota yang dieliminasi dari penyakit tersebut.

Pemerintah juga akan berfokus mengendalikan penyakit kusta. Dengan adanya reformasi kesehatan ini diharapkan Indonesia akan bebas kustam. Saat ini Indonesia mempunyai kasus kusta tertinggi, setelah Brazil dan India.

Dalam kesempatan yang sama, Monoarfa mengungkapkan, saat ini dari tingkat Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) anak Indonesia hanya mencapai 55 persen sampai dengan 60 persen. Ke depan diharapkan bisa mencapai 90 persen.

''Saya inginkan IDL itu penting sekali, jadi kita terkonsentrasi di stunting padahal IDL termasuk pneumonia di anak luar biasa ancamannya dan ancam generasi Indonesia ke depan,'' pungkasnya.***

Editor:hasan b
Sumber:liputan6.com
Kategori:Kampus, Kesehatan
wwwwww