Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
Nasional
20 jam yang lalu
Pemerintah Buka Pendaftaran CPNS November 2026, KemenPAN RB Pimpin Rangkaian Seleksi
2
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
Nasional
18 jam yang lalu
Kurangi Ketergantungan Nikel, Kementerian ESDM Kebut Pengolahan Bauksit dan Tembaga Lewat Forum Bali
3
Pemkot Pekanbaru Usulkan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Angin Segar Kesejahteraan Pegawai
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Usulkan PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu, Angin Segar Kesejahteraan Pegawai
4
Suket Ijazah Gibran Batal demi Hukum, Mahfud MD Dorong DPR Lakukan Langkah Politik
Nasional
18 jam yang lalu
Suket Ijazah Gibran Batal demi Hukum, Mahfud MD Dorong DPR Lakukan Langkah Politik
5
Ekonomi Melesat 7,39 Persen, Pemkot Pekanbaru Sabet Penghargaan CNN Indonesia Awards
Balai Kota
15 jam yang lalu
Ekonomi Melesat 7,39 Persen, Pemkot Pekanbaru Sabet Penghargaan CNN Indonesia Awards
6
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
Hukum
20 jam yang lalu
Kasus Suap Lahan ATR/BPN, KPK Dalami Keterlibatan Petinggi PT Bela Parahiyangan
Home  /  Berita  /  GoNews Group
Nasib Warga Panton Luas Tapaktuan Belum Nikmati Signal Seluler

Ponsel Digantung di Pohon, Begitu Berdering Langsung Manjat

Ponsel Digantung di Pohon, Begitu Berdering Langsung Manjat
Eva, warga Panton Luas, mengaku perangkat handphonenya tidak bisa difungsikan karena tidak ada jaringan telekomunuikasi.
Senin, 18 April 2016 10:35 WIB
Penulis: AL FAHD RADI FAHLEFI

ACEH SELATAN - Di jantung ibukota Kabupaten Aceh Selatan, terdapat sebuah desa pedalaman yang hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Tapaktuan. Kendati pun jarak desa mungil ini tidak terlalu jauh dari keramaian, namun 600 jiwa penduduk belum menikmati kemudahan komunikasi seluler.

Desa tersebut adalah Gampong Panton Luas, Kecamatan Tapaktuan. Masyarakat di gampong ini belum bisa menikmati kemajuan teknologi komunikasi melalui perangkat handphone layaknya warga lain. Kondisi ini memantik keluhan serta membuat penduduk kecewa.

Untuk bisa berkomunikasi lewat udara, sebagian warga harus mencari ketinggian atau tempat tertentu yang bisa diakses signal seluler. Itu pun frekwensi signal acap terputus karena tidak stabil.

“Jika mau berkomunikasi dengan handphone kami harus ke Balai Pemuda. Di sana tempatnya tinggi dan terdapat sedikit signal. Namun ini juga tidak efektif, masak kalau ngomong bersifat rahasia harus didengar orang lain. Beberapa tahun yang lalu warga desa ini pernah memasang penguat signal, namun tidak berlangsung lama, alat itu tidak dapat difungsikan lagi alias error,” ucap Eva, salah satu warga pada GoAceh.co, Minggu sore (17/4/2016).

Ironisnya, ada sejumlah warga harus menggantungkan ponselnya di pohon kayu yang tinggi untuk dapat signal. Saat ponsel berdering, si pemilik cepat-cepat memanjat pohon untuk berkomunikasi dengan si penelpon.

“Seperti inilah gambaran kehidupan kami. Kalau mau berkomunikasi dengan lancar, terpaksa harus ke Tapaktuan, walaupun sudah larut malam. Saat-saat penting, tidak ada inisiatif lain kecuali berangkat ke ibukota. Bagi yang tidak memiliki kenderaan bermotor, mau tidak mau harus membuang malu untuk meminjam punya tetangga,” tambah ibu Erna. (rad)

Editor:Ridwan Iskandar
Kategori:GoNews Group, Kabar Bertuah
wwwwww